Belajar Dewasa dari Masalah

Hidup penuh masalah. Beberapa teman kerap curhat atas masalahnya. Ada yang curhat tentang problematika keluarganya, hingga ke masalah cinta. Ehem….yang terakhir ini memang biasanya menghantui para cewek (termasuk penulis 😛 –red) terutama yang masih menjomblo. Masalahnya tak jauh-jauh seputar cinta dan cowok.

Salah seorang sahabat saya curhat bahwa hatinya sangat kecewa karena cinta bertepuk sebelah tangan. Si cowok hanya menganggapnya teman biasa ketika ia menginginkan hubungan yang lebih serius. Karena masalah ini, sahabatku mengatakan, dia tak bisa terima dan patah hati. Ia berusaha melupakan sang cowok namun sangat sulit.
Saya hanya hanya bisa memotivasinya, dan mengatakan,” keep fight”. Bahwa tak hanya dia yang mengalami hal sepeti itu. Ada banyak wanita dan juga pria yang mengalami patah hati. Hanya saja, mungkin pria tak sebegitu parah (baca : larut) dalam mensikapi patah hati ketimbang wanita. Karena wanita yang memang didominasi perasaan, jadi sangat sulit untuk mengelola hati ketika sedang terluka.
Betapa Allah mendidik kita lewat masalah. Tinggal bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari setiap masalah. Ingin larut dalam masalah, atau keluar sebagai pemenang?
Terkadang ada orang yang begitu bijak dan tenang dalam menjalankan hidup. Padahal sebenarnya dia memiliki masalah yang beragam masalah. Tetapi ada juga orang yang selalu mengeluh pada masalahnya, seolah dia memilki beban yang berat dalam hidup, padahal masalahnya sebenarnya sepele.
Patah hati atau ditinggal pacar, sebenarnya masalah yang besar buat sebagian orang, tapi sebenarnya sepele. “Sepele?? Ga salah nih, gue hampir bunuh diri tau!!” Protes orang yang tak setuju. Iya iya…ngerti…tapi apa iya dengan bunuh diri lantas pacar kita akan kembali pada kita? Kan engga.
Nah, saatnya menggunakan seluruh potensi akal fikiran, hati dan fisik dengan baik.
Kita gunakan akal dengan jernih. Apakah ketika kita memikirkan dia terus menerus, dia disana juga demikian? Bisa jadi dia sedang sibuk dengan cewek yang lain. Atau juga bisa jadi dia juga memang tidak kepikiran kita? Nah loh?? Kalau memang benar, bukankah kita sangat merugi memikirkan orang yang tak memikirkan kita? “Tapi, hati ku udah terlanjur tertambat disana? Hiks…bener banget…buat para cewek..bicara masalah hati ini memang susah. Karena itu, coba kita gunakan potensi hati kita yang dianugerahi hati nurani untuk merasakan kebenaran. Bahwa kita harus belajar ikhlas terhadap masalah apapun. Ikhlas melepaskan dia, ikhlas membuat dia bahagia, dan ikhlas jika kita tak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika jatuh cinta, dan itu bertepuk sebelah tangan atau si dia tak merespon cinta kita, maka tak ada yang harus disesali karena dia belumlah menjadi orang yang halal buat kita. Karena itu kelolalah hati dengan sebaik-baiknya dalam mencinta. Jangan sampai cinta kita menjadi berlebihan melebihi cinta kita pada orang terdekat. Ada orang-orang yang lebih layak kita cintai. Ibu, Ayah, adik, kakak, keponakan dan yang paling penting dari semua itu, sebisa mungkin cinta kita pada si dia tidak melebihi cinta kita pada Allah. Ini kuncinya.
Ketika kadar cinta kita pada-Nya melebihi cinta pada seorang hamba, maka kita tak akan kecewa dan patah hati. Allah Maha Luas cinta dan karunianya. Ia memiliki segalanya yang ada di langit dan di bumi. Apapun bisa kita minta dari-Nya jika Ia mencintai kita. Jika Allah mau, Dia bisa saja memberikan pangeran yang paling tampan di seluruh dunia (ngarep.com), asal kita benar-benar mencintai-Nya melebihi segalanya. Syaratnya, ya kita harus dekat dulu dengan Allah.
Jadi, masalah apapun termasuk patah hati bisa menjadi pembelajaran jika kita mau merenung dan mengambil hikmahnya. Bahwa ada banyak masalah yang lebih berat dari urusan cinta dan broken heart. Kalau kita mau membuka mata dan telinga, tentunya disekeliling kita ada orang-orang yang lebih menderita dibanding kita. Lihat tetangga kita yang untuk makan hari ini saja dia mesti banting tulang. Lihat saudara kita yang cacat dan memiliki fisik tak sesempurna kita. Lihat saudara-saudara kita di belahan dunia lain, ayang mengalami nasib tak seberuntung kita, seperti warga Palestina yang dibantai, sehingga mereka tak merasakan kenyamanan hidup di negeri sendiri. Jadi, ada baiknya kita banyak menggunakan seluruh indra, agar dalam setiap masalah kita bisa lebih bijak menghadapinya.
Dengan suksesnya kita berhadapan dengan masalah seberat apapun, justru akan membuat kita makin matang dan dewasa. Sehingga ketika nantinya menghadapi ujian hidup yang lebih berat, kita sudah semakin pandai. Jadi, begitulah ujian mendewasakan kita. Cheer up ya sobat 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s