Ibu kedua itu bernama Televisi

 

Seorang pakar pendidikan di New York mengemukakan sebuah pertanyaan dalam seminarnya. “Siapakah yang telah melahirkan anak-anak kita?” Hampir seluruh peserta yang mayoritas ibu-ibu menunjuk tangan mereka. Kemudian, ia melontarkan pertanyaan kedua,” Siapa yang paling banyak memberikan pengaruh terhadap pendidikan dan mental anak-anak kita?” Kali ini, tak ada yang menunjuk tangan. Wajah mereka terlihat ragu-ragu dan lebih memilih diam.

 

Pembicara tersebut kemudian tersenyum dan melanjutkan. “Bahwa, ada seorang ibu yang telah banyak menemani hari-hari anak kita di rumah, bahkan ketika kita terlambat pulang. Ia secara konsisten selalu hadir dan tak pernah terlambat untuk selalu ada di samping anak-anak kita. Bahkan ketika kita lupa untukmengkonfirmasi bahwa kita terlambat pulang dari kantor, ia tak pernah lupa untuk terlambat.

 

Lantas, seluruh peserta bertanya-tanya siapakah ibu yang dimaksud?

 

Pembicara tersebut kemudian melanjutkan, “Ibu kedua itu bernama televisi. Seorang ibu mungkin saja terlambat pulang ke rumah dan terlambat untuk menemui anak kita. Namun, ibu kedua ini tak pernah terlambat untuk menemui anak di rumah. Ibu kedua ini selalu setia mendampingi anak kita, menemani hari-hari mereka dan juga mendidik mereka. “

 

Serentak, seluruh ruangan menjadi hening. Hampir semua peserta menunduk dan menghela nafas.

 

Pembicara tersebut kemudian menginformasikan bahwa kini, para ibu di Amerika mulai mengganti program-program TV mereka dengan program yang lebih mendidik, bahkan banyak yang memutuskan untuk tak memiliki TV.  Mereka juga membuat  semacam Assosiation of Parent with no TV at home.

 

Tulisan di atas adalah sekelumit inspirasi yang kudengar dari petikan Ayah Edi dari Smart Parenting saat mengisi acara Smart FM suatu pagi.

 

Inspirasi Ayah Edi tersebut semakin menyadarkan aku akan peran televisi pada anak-anak. Betapa, kotak ajaib itu memang sudah menjadi ibu kedua buat anak-anak.  Aku mengalaminya sendiri saat kecil dulu. Pulang sekolah, sambil makan siang, aku sudah nongkrong di depan TV. Setelah mandi sore, sudah magrib, sudah isya, teruus menonton semua acara. Hingga aku hafal seluruh program dan acara TV. Bahkan, ketika SMA, ibadah solatku jadi terganggu karena program dan film favoritku di TV.  Saking tak mau ketinggalannya alur cerita, aku bela-belain untuk solat di saat iklan, itu pun dengan terburu-buru. Astagfirullah……..

 

 

Satu lagi, seorang pakar pendidikan anak usia dini dari Creative School, Talahase Florida, AS, Pamela Phelp, Phd, pun beranggapan demikian. Pamela yang sudah berkecimpung puluhan tahun dalam dunia anak mengakui bahwa TV memberikan sumbangan yang tidak baik pada perkembangan otak anak. Pamela yang telah melakukan riset tentang perkembangan anak, mengatakan, setiap pengalaman akan mempengaruhi perkembangan anak. Dan, pada anak yang sering menonton televisi akan mengalami kesulitan untuk focus dan berkonsentrasi pada pelajaran. Karena, tayangan-tayangan dalam visualisasi televisi yang selalu berganti-ganti itu menyebabkan penerimaan dalam otaknya menjadi tidak fokus. Bahkan, Pamela ikut menyarankan para ibu untuk tidak memiliki TV dirumah. Untuk mendengarkan informasi dan berita cukup hanya dengan memiliki radio.

 

Jika para ibu di Amerika saja sudah mulai sadar akan kelalaian mereka terhadap masa depan anak dari dampak TV ini, maka bagaimana dengan kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s