Sarjana VS Non Sarjana

 

Terkadang, aku merasa menjadi orang yang bodoh sedunia. Hee…kok begitu? Yaa…terkadang, aku yang sudah sarjana ini bertindak lebih bodoh dibanding anak lulusan SMA bahkan yang tidak sekolah sekalipun. Hmmm… lantas aku berpikir, kalau gitu apa saja yang sudah aku pelajari di sekolah hingga perguruan tinggi? Disuruh menyebutkan barang beberapa rumus matematika saja atau nama-nama latin pelajaran biologi, dijamin aku sudah tak ingat. Lantas, apa yang salah kalau begitu? Apakah system dan metode pendidikannya? Ataukah aku yang memang bodoh? Hmm..lantas mengapa banyak sarjana nganggur? Lantas mengapa banyak sarjana berperilaku buruk seperti tingkah para petinggi diteras sana yang melakukan korupsi? Banyak sekali kalau mau cari contoh betapa lulusan institusi pendidikan tinggi sekalipun tak menjamin kita bisa pandai dari segi intelektual maupun akhlak. Betapa banyak para lulusan sarjana, masih tak pandai mengatur dirinya sendiri. Betapa banyak para lulusan sarjana masih mau mencuri, baik mencuri kertas dan barang-barang di kantor, maupun mencuri hak orang lain?

 

Sementara di sisi lain banyak orang meraih sukses, tanpa menempuh bangku sekolah tinggi? Juga betapa banyak orang berakhlak lebih mulia, padahal ia tak lulus SMA? Hmm…jadi sepertinya memang ada jurang pemisah antara ilmu dan praktek. Antara teori dan penerapan di lapangan. Pantas saja, ada rumor bahwa sarjana tak bisa kerja. Bahkan, sarjana gak punya akhlak. Hmmm…ironis.

 

Menyadari hal itu, aku sendiri membenarkan hasil renunganku tadi. Aku yang sedang bekerja di sebuah perusahaan yang sama sekali jauh dari background bangku kuliah, juga sedang belajar lagi dari rekan yang  lebih rendah dari segi tingkat pendidikannya. Temanku yang orang operasional yang sehari-harinya di lapangan lebih banyak tahu mana jalan-jalan rute-rute menuju tempat-tempat tertentu. Dia lebih tahu bagaimana cara kirim barang, bagaimana cara pick up barang di pelabuhan. Jadi, boleh dibilang, secara pengalaman dia lebih menang dibanding aku.  Itulah kelebihan ilmu pengalaman dibanding ilmu teori. Aha…dari sini, kutemukan jawaban renunganku di atas. Bahwa kesalahan dunia pendidikan adalah ada keterpisahan antara ilmu dan praktek. Kita terlalu banyak dicekoki teori ini itu, tanpa pernah tahu apa dan bagaimana teori itu sebenarnya. Kita terlalu banyak disuruh menghafal ini dan itu tanpa mengerti dan paham prakteknya.

 

Coba saja, sekarang jika kita ditanya teori yang dulu kita hafal mati-matian? Bisa engga kita sebutkan lagi? Jarang tuh ada yang masih hafal, bahkan sila pancasila saja saya sudah tak hafal hehe…

 

Karena itu, menjadi sarjana bukan tak mungkin cukup sampai disitu maka dia dikatakan berpendidikan tinggi. Sarjana itu tetap juga masih tergolong bodoh jika tak mau belajar lagi. Jangan pernah malu untuk belajar dari siapapun, bahkan pada yang lebih rendah baik usia maupun pengalamannya.

 

Kalau kita kembalikan lagi ke hadist :

Menuntut ilmu sejak buaian hingga ke liang lahat

 

Kalau dalam istilah blog saya : Life is Learning, Hidup adalah belajar dan belajar!

And so, never ending learning….

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s