M u h a s a b a h…


Setiap tahun kita memperingati tahun baru sebagai pertambahan dan pergantian tahun. Biasanya kita mempersiapkan diri dengan rencana-rencana baik bersifat pribadi maupun kolektif. Perusahaan-perusahaan mulai menggelar meeting tahunan guna melaksanakan evaluasi akhir tahun dan juga launching program-program baru.

Sementara itu, adakah kita evaluasi diri kita seberapa berhasilnya pertambahan dan kemajuan yang sudah dicapai di tahun ini? Terutama dari segi peningkatan iman dan amal?

Pertanyaan ini membuat saya termenung tertunduk. Karena, untuk kesekian kalinya di tahun ini, belum banyak hal yang menjadi progress iman dan amal saya. Beberapa target dalam peta hidup pun tak terealisasi. Hanya satu karya yang baru dihasilkan di bulan Juni lalu. Selanjutnya, masih mengendap di alam pikiran dan tataran ide. Termasuk naskah yang masih waiting list nasibnya di penerbit.

Ibadah dan amal soleh pun masih dipertanyakan kuantitas dan kualitasnya.  Menikah? Juga masih menjadi ‘PR’ antara saya dan Allah. Dan, kali ini saya tak berani mentargetkannya di tahun depan. Namun, satu keyakinan yang saya dapat dari hasil perenungan tadi malam oleh Ustad Anwar Anshory dan ustad Muhsinin Fauzi Lc, adalah keyakinan kita yang belum hijrah. Bahwa selama ini mungkin keyakinan itu masih lemah kadarnya. Keyakinan bahwa Allah Sang Maha Pengatur dan Pemberi Keputusan. Bahwa seberapa gencar dan giat usaha kita, tetap keyakinan bahwa kepada-Nya lah semua muara. Bahwa Dialah Al Baari, Yang Maha Merencanakan. Peningkatan keyakinan ini lah yang harus menjadi agenda saya berikutnya.

Satu lagi yang digaris bawahi dari tausiyah ustad tadi, bahwa dengan ditundanya pernikahan, sama sekali tak boleh membuat hati kita sengsara dan nelangsa. Karena bahagia itu tak diperoleh dengan hanya melalui pernikahan. Bahwa bahagia itu hak prerogative individu dan hanya kitalah yang mampu memperolehnya. Menikah itu penting, tapi bukan yang penting menikah. Jadi, sama sekali bukan bermaksud menyampingkan sunah Rasulullah ini, tapi bagaimana kita mensikapi dengan tepat tentang ini. Ada banyak hikmah yang Allah persiapkan buat saya dan juga para muslimah lainnya yang belum menikah.

Begitu pula, ustad tadi memberikan tips buat para pasangan yang sudah dikaruniai kesempatan menggenapkan separuh din melalui pernikahan. Bahwa sakinah dan bahagia itu adalah pilihan kita sendiri. Untuk bahagia, kita sendiri yang bisa menciptakannya, bukan orang lain dan bukan dari tempat lain.

Ustad Muhsinin juga memberikan TIPS BAHAGIA berikut :
Bahwa tak boleh ada seorangpun atau satu keadaaanpun yang boleh mengkeruhkan hati kita, sehingga kita tak menjadi bahagia.

Kalau kata Mario Teguh dalam MTGW-nya, jangan terikat pada keburukan yang ada di sekitar kita. Maka bebaskan dirimu karena Allah selalu memberikan kebaikan pada diri kita. Buat yang belum mendapatkan pasangan, fokuskan dan persiapkan dirimu menjadi orang yang layak dipilih. Setelah itu, yakinkan bahwa Allah sedang menyiapkan yang terbaik buat kita.

Sebagai tambahan terkait dengan pernikahan, berikut ini catatan yang saya kutip dari tausiyah ustad Muhsinin LC, Direktur Lembaga Konsultasi Formula Hati :

Pernikahan itu bukan sekedar fisik. Cantik atau tampan hanya bertahan 5 tahun saja. Karena sudah menjadi hukum alam, semua yang sudah menjadi milik kita akan timbul rasa bosannya, seberapa cantik dan tampannya pasangan kita. Dan, hanya dengan agama dan ketulusanlah rumah tangga akan bertahan. Karena itu, berbahagialah yang memilih pasangan karena agamanya.

Karena itu, untuk bahagia di pernikahan kita, ada pilar-pilar yang mesti disiapkan (bagi yang belum menikah) atau diperhatikan (bagi yang sudah menikah)  :
1.    Visi pernikahan yang benar, salah satunya karena ingin menyempurnakan agama. Jika setiap hal dirumah tangga adalah dalam rangka ibadah dan penyempurna agama, maka kita akan selalu merasa bahagia.
2.    Memahami hukum rumah tangga (tentang hak dan kewajiban masing-masing suami dan istri).
3.    Biarkan cinta dalam rumah tangga itu tumpah ruah. Ikhlas mencintai pasangan dan pastikan hanya pasangan kita yang kita cintai. Hal inilah yang membuat kita mencintai pasangan apa adanya lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya.
4.    Selalu berorientasi pada solusi

  • Dalam rumah tangga, masalah atau bukan, tergantung kita yang menghadapinya. Jika semua masalah adalah solusi, maka tak ada masalah dalam rumah tangga.

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1432 H

KULLU AAM WA ANTUM BIKHOIRIN

Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.

Amiiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s