Belajar dari Medan yang Sulit

Tulisan ini mengadaptasi dari pengalaman aku saat belajar setir mobil

 

Saat itu aku berkesempatan memperlancar setir mobil bersama seorang kerabat. Sambil memulai menyetir, aku bertanya kepadanya akan pergi ke tempat mana kita? Kemudian saudaraku itu menjawab, bahwa kita pergi ke tempat yang banyak tantangannya saja, karena untuk memperlancar menyetir di tempat biasa seperti kompleks itu tentu saja akan dengan mudah dilewati, namun tak akan membantu memperlancar setirku. Karena itu ia menyuruhku melewati jalan yang ramai dan banyak containernya. Sedikit khawatir aku menyetujuinya. Dan pikiranku membenarkan perkataaan saudaraku itu.

Sambil menyetir, analogiku bermain. Bahwa hidup pun seperti itu, membutuhkan tantangan. Tanpa tantangan, hidup akan terasa hambar. Coba kita lihat pikir dan bedakan, ada seseorang (sebut saja A) yang hidupnya selalu enak. Harta berlimpah, uang banyak, orang tuapun selalu menyayangi dan memperhatikan. Dengan hidupnya yang serba ada ini, si A selalu mengandalkan kemampuan dan kekayaan orangtuanya. Sementara, di sisi lain ada seseorang yang selalu hidup susah. Gaji orangtuanya pas-pasan. Rumahnya ngontrak, sedangkan dia masih kuliah dengan biaya sendiri.  Hingga si B ini berpikir  keras untuk bekerja membanting tulang demi membantu keuangan orangtuanya.

Kemudian, setelah berpikir makna perkataan saudaraku itu, aku pun mencoba membuktikannya. Aku menyetir ke arah jalan-jalan ramai, penuh contrainer. Awalnya aku panik dan ketakutan setiap kali bersisian dengan truk dan container. Khawatir tersenggol dan tiba-tiba nabrak. Namun, saudaraku menjelaskan bahwa aku harus tenang dan tetap focus pada setir dan spion. Anggap saja tak ada container di kanan kiri. Dan, memang saat ku jalankan sikap dan posisi itu, aku toh bisa menyetir dengan lancar. Bahkan aku merasakan kemampuan setirku semakin meningkat karena aku mulai berani menekan gas untuk mengimbangi mobilku dengan mobil-mobil lain yang melaju cepat. Saat itulah aku harus pandai memainkan rem dan kopling dengan tetap spion sebagai kontrolnya.

Hampir dua jam tak terasa, aku sudah putar balik menuju rumahku kembali. Tak terasa pula aku sudah bisa melewati medan yang sulit. Tinggal selanjutnya pembiasaan untuk lebih melancarkan.

Sekali lagi, aku menangkap makna yang dalam dari memilih medan ini. Setir ternyata punya makna yang dalam terutama jika dikaitkan dengan kehidupan. Hidup pun harus punya control. Ketika kita berada dalam kesulitan hidup seperti tak punya uang sama sekali, kita tetap harus tenang dan focus. Tenang dan berpikir bagaimana cara mencari uang tersebut? Juga focus untuk berpikir dan mengusahakannya dengan meminjam modal atau bekerja atau dari mana saja. Begitu pula kesulitan dalam menghadapi masalah lainnya.

Dan yang terpenting, sebagaimana medan yang sulit akan memperlancar kemampuan setir, kehidupan yang sulit juga akan membuat seseorang dewasa dan pintar. Bagaikan emas yang selalu ditempa, maka akan semakin berkilau, begitu juga dengan jiwa . Semakin kita ditempa dengan kesulitan hidup, maka jiwa akan semakin berkilau dengan hikmah. Kita akan semakin bijak dan pandai dalam menyikapi hidup.

Advertisements

5 responses to “Belajar dari Medan yang Sulit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s