CATATAN DUKA UNTUK USTADZAH YOYOK

 

Pagi tadi aku begitu terkejut melihat status seseorang di Facebook. “Innaalillahi wa innaailaihi roojiuun. Semoga Allah memberikan surga tertinggi untukmu Ustadzah Yoyoh Yusroh. Segala tauladanmu dalam membina keluarga selalu menjadi inspirasiku. Selamat jalan ustadzah terbaikku.” Kontan, aku langsung menjawab status tersebut, “Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uuun. “Mba, ini yang meninggal ustadzah Yoyoh yang di DPR itu bukan?“ Kemudian, dijawab, “Iya, beliau meninggal tadi pagi pukul 03.30 karena kecelakaan kereta dari Jogja. menuju Jakarta, sekembalinya dari menghadiri wisuda anaknya”.

 

Deg!  Setengah tak percaya aku kemudian mendoakan beliau dalam commentku selanjutnya “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun, semoga amal baiknya tetap hidup bersama kita.

 

Sebenarnya aku sendiri tak pernah bertemu muka dengan beliau. Seingatku, aku pernah sekali mendengarkan ceramahnya pada tahun 2010 di masjid Al Azhar tentang peran dan tugas wanita muslimah.

 

Sebelum ini, dua hari lalu juga aku mendengar kabar duka yang sama, bahwa seorang penulis muslimah dari Batam, Nurul F Huda meninggal dunia. Entah mengapa, mendengar berita kematian orang-orang sholeh, ada nuansa kesedihan tersendiri dalam batinku. Aku sama sekali tak mengenal mereka, karena mereka bukan selebritis. Tapi, aku begitu kehilangan mereka, meski tak dekat dan bukan menjadi bagian dalam kesehariannya. Nuansa yang sama juga kurasakan saat almarhum Ustad Rahmat Abdullah meninggal pada 2006 lalu. Ada rasa kehilangan dan kesedihan tersendiri yang berbeda.

 

Begitu juga dengan Ustadzah Yoyoh. Meski tak dekat dengannya, nama Ustadzah Yoyoh, sudah lekat ditelingaku sebagai sosok yang rajin berdakwah baik di kalangan ibu-ibu maupun di kalangan elit politik DPR. Beliau kukenal sebagai sosok yang konsisten dengan perannya. Meski sibuk dengan karir dan dakwah, namun ibu 13 orang anak ini tak  melupakan perannya sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Bahkan, ada salah seorang anaknya yang sudah hafal Al Quran 30 Juz.

 

 

Kematian mereka sungguh membawa inspirasi buatku. Bahwa, mereka berhasil pergi meninggalkan dunia dengan prestasi amal kebaikan. Mereka berhasil menorehkan prestasi dengan karya dan dakwah. Mbak Nurul dengan karya tulisannya, sedangkan ustadzah Yoyoh & ustad Rahmat Abdullah dengan dakwahnya.

 

Berita pagi ini menghentak batinku untuk berteriak,”Do something, before your turn!” Ayo, berbuat sesuatu, sebelum giliranku dipanggil, sebelum aku tak ada lagi di dunia!”

 

Ya, insya Allah, aku juga akan mengikuti jejak orang-orang sholeh, menorehkan prestasi kehidupan dengan amal dan karya terbaik. Aaamiiin.

 

Hal berharga yang pernah kucatat dari tausiyah beliau tentang peran wanita muslimah adalah :

 

“Peran kaum wanita muslimah di masyarakat adalah peran kontributik, bukan peran ganda. Karena itu, sebanyak mungkin para wanita menyumbangkan perannya pada agama dan bangsa.”

 

“Selama wanita muslimah menjaga dirinya dan diridhoi suami/keluarganya, maka aktifnya wanita di luar rumah adalah bernilai ibadah. Tentunya dengan syarat, tugas dan kewajiban di rumah tidak terlalaikan, serta dapat mengelola waktunya dengan baik.

 

”Wanita melahirkan satu anak, tapi juga melahirkan (mendidik) masyarakat.“

“Wanita, tangan kirinya menggoyang ayunan, namun tangan kanannya mengguncang dunia.”

 

Selamat jalan Ustadzah Yoyoh. Semoga amal dan peran yang sudah kau torehkan menjadi pahala yang selalu mengalir kepada generasi selanjutnya, dan menempatkan ruhmu dalam tempat yang terindah di surga Allah. Aaamiiin.

 

21 Mei 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s