Ramadhan adalah Sekolah Cinta

Seorang sahabat mengaku sedih dan menangis di hari pertama Ramadhannya. Aku kaget dan bertanya, karena bukankah seharusnya kita menyambut Ramadhan dengan gembira penuh sukacita? Sahabat saya itu kemudian menjelaskan, bahwa di Ramadhan kali ini kali pertama ia tak merasakan kebersamaan dengan kedua orangtuanya yang meninggal dunia beberapa bulan lalu. Aku kemudian menarik nafas. Yah, memang sangat sedih dan aku tak bisa memungkiri kesedihan sahabatku itu. Kemudian ia melanjutkan lagi, biasanya kalau sahur ayahnya membangunkannya dan mamanya memasakkan makanan sahur kemudian mereka makan sahur bersama. Tapi kali ini, ia sendirian dan perasaan sangat kehilangan merayapi sanubari yang sudah dicoba untuk ditepisnya.

Sahabat saya yang lain juga mengaku sering kesiangan bangun sahur karena keletihan setelah lelah bekerja full time di kantor. Saya pun tidak memungkiri kondisi ini, karena saya pun sering mengalaminya di tahun-tahun lalu.

Hampir sama dengan cerita sahabat saya, pengalaman Ramadhan saya begini. Sejak ibu saya meninggal tahun 2004 lalu, saya sangat kehilangan moment bersama ibu tercinta ketika Ramadhan. Seiring waktu berjalan,  saat Ramadhan di tahun 2005 saya ngekost, dan kesedihan itu terobati oleh teman-teman kost yang super rame dan lucu-lucu hingga menjadi penghibur dan bisa mensupport.  Ketika sahurpun, kami ramai-ramai masak dan makan seadanya.  Namun, kesedihan itu kembali terulang ketika saya kembali tinggal di rumah.  Saya kehilangan sosok ibu yang menaungi anak-anaknya dengan kasih sayangnya. Membangunkan sahur, memasak makanan untuk anak-anaknya. Bahkan, saya menjadi satu-satunya perempuan yang diandalkan untuk menyiapkan makan sahur, buat kakak dan ayah saya.

Memang, ketiadaan seseorang yang sangat berarti di samping kita mungkin menjadi momok tersendiri, terutama buat yang benar-benar ‘sendirian’ seperti sahabat saya tadi.  Apalagi dalam bulan suci, bulan ibadah, bulan Ramadhan. Bulan dimana kita dituntut untuk memasang semua indra dan menyiapkan tenaga agar dapat beribadah dengan maksimal untuk meraih ampunan dan rahmat-Nya.

Buat pekerja kantoran –seperti saya- yang terikat waktu bekerja dari pagi hingga sore, target ibadah Ramadhan mungkin masih menjadi terkendala. Apalagi yang punya tuntutan lembur sampai malam. Tentunya merasa sedih, lelah, dan keteteran. Karena saat tiba di rumah, kondisi sudah lelah. Yang ada hanya tinggal istirahat dan ibadah seadanya. Besok hari pun seperti itu, dan rutin terus hingga tak terasa Ramadhan berakhir.

Yah, terjebak dengan rutinitas pekerjaan dikantor memang tak bisa dipungkiri menjadi fenomena harian yang tak ada habisnya. Merasa sendiri, lelah dengan rutinitas di kantor, adalah masalah yang bisa menghampiri siapa saja. Namun, apakah kita hanya bisa meratapi kesedihan dan tak menemukan solusinya? Akankah kita biarkan Ramadhan berlalu begitu saja dan terseret arus kesibukan dunia yang tak ada habisnya?

Sahabat, Ramadhan adalah madrasah. Ia adalah sekolah pelatihan kita yang Allah sediakan untuk hamba sebagai bukti cinta-Nya pada kita. Jangan sia-siakan hadirnya dengan mengeluh dan meratap. Hadirkan semangat berjuang untuk meraih takwa dan cinta-Nya.

Ingat, bukankah kemenangan pasukan Islam pada perang Badar diraih saat bulan Ramadhan? Mereka bahkan bukan saja berjuang melawan haus dan lapar. Mereka berjuang dengan fisik, menumpahkan luka dan darah. Bagaimana dengan kita, yang hanya diuji dengan kesulitan waktu dan soal perasaan? Bagaimana dengan teman, tetangga yang kesulitan tak  mendapatkan makanan untuk berbuka?

Karenanya, jadikan Ramadhan bulan perjuangan. Yang dengan tilawah Al Quran kita menjadikannya Syahrul Qur’an. Yang dengan banyak menghadiri majelis ilmu kita menjadikannya Syahrul Huda. Yang dengan selalu bersabar dalam kesulitan kita menjadikannya Syahrus Shobr . Ramadhan juga sekolah cinta, yang dengan berbagi rizki & bersedekah pada orang terdekat juga yang membutuhkan, kita menjadikannya sebagai Syhrul Hubb. Bulan cinta dimana Allah telah mengajari kita cinta dengan banyak berbagi.

Jadi, sesulit apapun keadaannya, sepayah apapun kita harus melakukannya, yakinlah kesulitan ujian di bulan ini  akan lebih baik dibanding langit dan bumi jika kita ikhlas menjalaninya. Karena pahala yang Allah sediakan akan menjadi lebih dari yang kita duga.

”Kullu amali ibn adam lahu illa as-shiyam, faiinahu li wa ana ajzi bihi”. Setiap amal bani adam adalah untuknya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.(HR Bukhari & Muslim)

 

Jadi, bukankah demikian cinta-Nya Allah hadirkan Ramadhan bagi kita untuk mendapatkan berbagai rahmat, kasih sayang langsung dari Yang Maha Memiliki Kasih Sayang?

Wallahu A’lam

By Ana –  Ditulis saat  gersangnya cinta

Ramadhan adalah sekolah cinta, karenanya, ajari aku cinta dengannya Ya Rabb ^_^

Advertisements

2 responses to “Ramadhan adalah Sekolah Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s