Belajar dari Euphoria Ramadhan

Bulan suci Ramadhan, menjadi euphoria tersendiri bagi kita, umat Islam, khususnya di minggu-minggu pertama kedatangannya. Orang-orang tiba-tiba jadi rajin pergi ke masjid. Lihat saja di hari pertama dan kedua, shaf-shaf di seluruh masjid penuh bahkan sampai luber ke luar halaman masjid. Tak hanya itu, orang jadi senang bersedekah. Tiap hari panitia amaliah masjid mengumumkan deretan nama-nama para pensedekah dan penyumbang makanan maupun uang.

 

Kesadaran berbuat baik ini tentu saja karena didasari atas keinginan orang untuk meraih keutamaan di bulan spesial ini. Beragam niat dan tujuan mendasari sanubari mereka. Dari mulai mengharap rahmat dan ampunan-Nya, mendapatkan pahala berlipat ganda, berharap keberkahan dan kebersihan hati hingga yang hanya sekadar ikut-ikutan dan meramaikan ataupun hanya ingin mendapatkan simpati masyarakat.

 

Jika menelisik lebih jauh lagi ke dalam masjid-masjid, boleh dilihat isinya penuh dengan kegiatan tilawah. Para remaja, orang dewasa hingga ibu-ibu tua renta memenuhi masjid dan sibuk bertilawah. Bahkan, saya melihat di sebuah masjid di Jakarta Selatan tempat saya beraktifitas, sejumlah  ibu-ibu tua renta yang jalannya pun sudah bungkuk sengaja memesan dan menyewa kamar untuk menetap di masjid selama Ramadhan. Mereka membawa seluruh perlengkapan pribadi hingga alat mandi. Mereka tak kalah gesit memburu shaf paling depan saat diselenggarakannya solat berjamaah.

 

Di sisi lain, pengalaman beberapa teman, ketika saya tanya sudah sampai juz berapa tilawahnya. Ada yang mengaku sudah khatam dihari ke-15, bahkan ada juga yang sudah khatam 2 kali. Subhanallah, tentu saja hal ini membuat saya iri dan memacu semangat saya untuk mengikuti jejak mereka. Karena, untuk khatam lebih dari sekali merupakan hal yang sulit buat pekerja kantoran seperti saya, dengan waktu kerja senin-sabtu dan job des yang multi tasking.  Ketika aku bertanya pada teman saya itu, kok bisa sih khatam 2 kali dalam beberapa minggu saja?  Padahal ia juga pekerja kantoran seperti saya? Ia menjawab, bahwa ia tak pernah melewatkan tiap waktu senggangnya untuk tilawah. Dari mulai keluar kamar, berangkat kerja, di bus, di kereta, hingga saat pameran berlangsung dalam rangka kerjapun, ia selalu menyempatkan tilawah. Pokoknya, tiada menit berlalu tanpa tilawah Al Quran.  Mendengar pengakuan tersebut, saya seolah dilecut dan langsung tersadar kalau saya khatam sekali saja belum. Saya baru juz dua puluh sekian. Saat itu, saya yang sedang berada di dalam mikrolet, langsung meraih Mushaf Al Quran, dan meneruskan tilawah saya yang tinggal 6 juz lagi khatam. Sambil tilawah itu, saya langsung tersadar bahwa selama ini saya banyak melalaikan waktu senggang. Facebook dan internet adalah hiburan di saat senggang saya. Terkadang, tanpa sadar berjam-jam sudah saya menghabiskan waktu untuk melihat-lihat status teman, mengomentarinya kemudian  melihat foto-foto teman-teman di friendlist.  Saya kemudian tersadar, jika saja jam-jam tersebut saya optimalkan untuk tilawah Quran, maka saya pasti bisa khatam 2 kali selama Ramadhan, bahkan mungkin lebih. Jika saya gunakan waktu-waktu senggang saya untuk menulis, mungkin saya bisa menulis lebih dari satu buku.

 

Begitulah euphoria Ramadhan. Semangat orang berbuat baik begitu dahsyat hingga dapat menularkannya pada yang lain, termasuk saya. Kemudian saya merenung, andai semua orang seperti ini di bulan setelah Ramadhan, alangkah indahnya. semua orang menjadi orang baik.  Andai setiap hari di luar Ramadhan, saya dan juga semua orang menyemarakkan diri dengan membaca Al Quran layaknya mengkonsumsi koran. Setiap orang tanpa malu-malu dan gengsi membaca Al Quran di tengah kemacetan. Akan sangat indahnya, karena Al Quran menjadi lebih dihargai umatnya. Al Quran yang fungsinya lebih penting dari koran harusnya saya baca setiap hari kemudian saya pelajari makna dan amalkan isinya. Al Quran, membacanya saja saya mendapat pahala, apalagi mengamalkannya, lantas mengapa selama ini saya tak berantusias untuk membacanya setiap saat?

 

Subhanallah, madrasah Ramadhan menjadi cambuk buat saya untuk mencerna lebih dalam lagi makna berbuat baik. Saya jadi tahu, mengapa Allah melipatgandakan pahala dan menjadikan Ramadhan adalah bulan special untuk umat-Nya. Karena Allah ingin melatih kita menjadi orang-orang special di bulan setelah Ramadhan. Layaknya, ketika SD, sebagai motivasi, kita diberi iming-iming mendapatkan hadiah jika kita berprestasi di sekolah. Maka, di sekolah Ramadhan ini, kita dimotivasi oleh Allah untuk menjadi orang baik (bertakwa) di luar Ramadhan. Agar setelah Ramadhan, kita selalu konsisten untuk tetap menjadi takwa. Itulah makna Ramadhan. Kalau kata orang bijak atau beberapa tausiah, bahwa Ramadhan adalah proses dari kepompong menjadi kupu-kupu yang indah. Proses penggodokan kita dilebur dan disucikan untuk menjadi orang-orang yang indah.

 

Karena itu, jika di bulan Ramadhan kita sudah mendapatkan prestasi (amal) terbaik dan gelar takwa, tentu saja kita tak ingin prestasi dan gelar itu kita lepaskan begitu saja manakala even Ramadhan berakhir bukan?  Lalu mengapa kita tak belajar dari Ramadhan dan tak menganggapnya hanya sebuah Euphoria belaka?

 

Sayangnya, hanya segelintir saja yang mampu memaknai Ramadhan. Tak semua mampu menterjemahkan maksud Allah menjadikan Ramadhan sebagai bulan special, hingga setelah ia berakhir, semua orang kembali pada aktivitasnya semula. Ramadhan seolah hanya moment tertentu yang akan berakhir setelah bulan berikutnya. Dan, sayangnya pula, hanya segelintir saja orang-orang yang mendapatkan pencerahan berupa lailatul qadar dan meraih gelar takwa  Karena bukankah ini target Ramadhan sebenarnya? Menjadi orang-orang bertakwa  di hadapan Allah Azza wa Jalla,  di bulan setelah Ramadhan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s