Menunggu, Bete Ah!

Bete nih nunggu dari tadi. Kemana aja sih dari tadi..huuuh..rese! Seonggok perasaan gondok berkumpul di tenggorokan.  Wajah jadi kusam dan bibir jadi manyun. Jika bercermin akan sangat jelek sekali wajah ku saat itu.

Begitulah situasi dan kondisi jika kita sedang bête menunggu seseorang tapi tak kelihatan juga batang hidungnya. Ya iyalah, batang hidung kan kecil mana keliatan kalau dari jauh? Hehehe…

Menunggu memang sangat tidak disukai banyak orang, termasuk aku. Jika aku mengisi biodata tentang sesuatu yang tidak disukai, maka aku akan mengisinya dengan menunggu. Yah, menunggu menjadi menyebalkan, seperti pengalamanku hari ini.

Hari ini, aku janjian dengan seorang sahabat untuk bertemu di Priuk, tempat aku bekerja. Kami sepakat untuk bertemu pada pukul 12.00 siang. Setelah menunaikan sholat dhuhur, mencoba menghubunginya. Ternyata, dia mengatakan masih mau sholat dhuhur baru berangkat. Hmm, ada sedikit rasa kecewa, karena dia molor dari janji yang sudah sepakat ditentukan dan saya pikir dia sudah sampai dimana. Akhirnya saya menunggu dia sambil browsing internet di kantor. Tak sadar, jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Aku coba menghubunginya lagi. Handphonenya sulit dihubungi. Terdengar nada tulalit. Ku coba lagi menelpon, berhasil. “Kamu dimana neng?, kataku. Dengan nada bersalah, sahabatku itu bilang dia masih di daerah Ciputat. Aku memberikan gambaran kalau bus dengan rute cukup jauh itu memakan perjalanan sekitar dua jam untuk sampai di Priuk. Aku mencoba mengerti dan menarik nafas. Kemudian, aku mengatakan akan menunggunya meski dengan bus yang lama tersebut.  Aku segera mencari suasana lain untuk mengusir rasa jenuhku karena menunggu dan bosan dengan browsing internet.

 

Jam menunjukkan pukul 14.50. Tak terasa,  satu jam lebih sudah menunggu, aku coba hubungi lagi sahabatku itu. Ternyata, dia bilang masih di daerah blok M, karena dia memilih turun dulu dari bus yang ditumpanginya karena alasan macet dan tak ingin berlama-lama dalam kemacetan. Aku geleng-geleng kepala. Hmm, sahabatku itu. Kenapa dia harus mengorbankan waktu beberapa jam hanya untuk ingin cepat? Emosi kesalku mulai memuncak. Kemudian, sahabatku itu seakan tahu kalau aku kesal. Dia mengatakan, apa aku harus naik ojeg dulu biar lebih cepat? Aku tertawa miris, sambil menarik nafas. Pikiranku menerka dia akan tiba dua jam lagi. Dengan kalimat getir saya mengatakan “Ya udah aku tunggu deh.”

Masya Allah…betapa sangat amat gondoknya aku saat itu. Aku langsung terkulai lemas untuk menahan emosi kekesalan yang meledak-ledak. Aku langsung berpikir bagaimana menghilangkan kejemuan dan kekesalan di hati sementara menunggu sahabatku itu yang masih sekitar dua jam lagi baru tiba.

 

Seiring azan Ashar berkumandang, aku berusaha mengalihkan perasaan kesal dengan berwudhu dan solat ashar. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk mengurai emosi. Fiuuuuuh…beginilah kalau sudah dikuasai amarah. Alhamdulillah setelah air wudhu mengalir di sekitar wajah, tangan dan kaki, aku rasakan tubuh ini lebih rileks. Dan, aku kembali menarik nafas untuk berkonsentrasi tanpa emosi untuk menghadap Allah dengan khusyu. Yap, sejurus kemudian, rasa kesal itu berganti dengan ketenangan dan kenyamanan. Berkomunikasi dengan Allah memang terasa nikmat melebihi nikmat apapun di dunia. Alhamdulillah, setelah menunaikan sholat, aku merenung dan kemudian berniat menulis yang hasilnya kemudian saya tuangkan dalam tulisan ini.

Bahwa, menunggu adalah pekerjaan yang tidak disukai. Karena itu, Allah mengujinya. Bukankah Ia menguji melalui hal-hal yang tidak kita sukai dan tidak kita harapkan. Allah memberikan kesulitan lebih dulu untuk kemudian kita dapatkan mudahnya. Allah menguji kita dengan pahitnya menunggu untuk kemudian akan kita dapatkan manisnya buah kesabaran. Bagaimana dengan kesabaran kita bisa mengalihkannya dengan aktivitas lain misalnya menciptakan sesuatu kreativitas yang lebih berarti? Seperti tulisanku ini.

Kemudian aku menganalogi hal ini dengan pernikahan. Aku dan mungkin banyak rekan yang lain menunggu jodohnya tak kunjung datang. Hal ini sangat tidak diharapkan dan tidak disukai tentunya. Namun, Allah menguji kesabaran kita.  Bagaimana di sela-sela masa penantian tersebut kita akan memilih menggerutu dan meratapi nasib karena jodoh tak kunjung datang? Ataukah kita memilih mengalihkannya dengan memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri? Tentunya kita sendiri yang bisa menentukan, apakah menunggu itu kegiatan yang menyebalkan atau tidak. Right?

Dear sahabat, jazaakilah sudah memunculkan ide tulisan ini

Tanjung Priok, 22 Oktober 2011, Pukul 16.09

Ketika tulisan ini selesai dibuat, sahabatku itu baru muncul ^_^

 

Advertisements

4 responses to “Menunggu, Bete Ah!

  1. Menunggu…dulu aq sering marah karna slalu berada diposisi menunggu, namun belakangan aq merasa beruntung karna slalu bisa ontime tepat janji dan disiplin diri..
    kasian mereka yg sering ingkar dan lalai…^ ^

    • setujuu Yongky, aku jg sekarang belajar disiplin biar engga mengecewakan orang lain, krn aku sudah mengalami menunggu itu bete banget, hehe, thanks yongky udah visit blog ini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s