YISC AL AZHAR, SEMANGAT SECERAH MENTARI

Sinar matahari pagi yang cerah mengiringi derap langkah-langkah yang begitu gagah. Beberapa anak muda tampak bergegas berjalan ke arah masjid berkubah putih di bilangan Jakarta selatan. Mereka datang dari berbagai pelosok Jakarta, bahkan Tangerang & Bekasi.

Di tempat yang lain, di sebuah aula berukuran besar, terlihat kelompok-kelompok anak muda melafalkan bacaan Al Quran. Masing-masing dibimbing oleh pemandu yang semangat dan sungguh-sungguh. Kesungguhan itu terlihat dari bahu-bahu yang ikut tergetar serta suara yang menggelegar memenuhi ruangan. Semuanya berusaha mempelajari bagaimana membaca Al Quran dengan bacaan yang tartil. Kelompok-kelompok tadi dibagi berdasarkan tingkat penguasaan membaca Al Quran. Ditempat itulah, derap langkah para anak muda tadi bermuara.  Dihari libur, disaat orang lain lebih memilih beristirahat atau bersenang-senang, mereka memulai Minggu pagi dengan menuntut ilmu. Fenomena yang mulai jarang ditemui di tengah jaman yang kian hedonis. Saat adzan berkumandang, serentak seluruh kegiatan terhenti. Mereka bergegas berwudhu untuk solat berjamaah. Inilah sekelumit potret kelompok pembelajar yang sadar pada ketaatan agama, berusaha kembali pada Al Quran dan Sunnah sebagai petunjuk yang harus di pelajari. Mereka memulainya di masjid ini, masjid Al Azhar.

Mentari di atas kubah itu seolah tersenyum memancarkan sinar kepuasan demi menyaksikan rumah Allah begitu semarak dengan anak-anak muda yang penuh semangat. Anak-anak muda yang mencerahkan masanya dengan mempelajari agama. Mentari itu seolah berkata, “Masjid kini tak lagi ditinggalkan.”

Masjid Al Azhar yang sudah puluhan tahun berdiri itu memang mengandung magnet tersendiri buat kaum muda khususnya. Entah siapapun tak dapat menjabarkan bentuk daya tarik tersebut, selain kenyamanan dan ketenangan saat beribadah disana. Tak hanya kaum muda, para orangtua bahkan lanjut usia pun tak menyurutkan langkah tatihnya untuk datang ke dalamnya. Saat shaf-shaf sholat ditegakkan, para orangtua ini turut menjadi pioneer di shaf terdepan. Bahkan mereka menyewa kamar khusus saat bulan Ramadhan dan tinggal di dalam masjid satu bulan lamanya.

YISC Al Azhar, potret anak muda masa kini yang peduli pada syiar agama, mengikrarkan diri dalam wadah organisasi kepemudaan di masjid Al Azhar. Mereka tak lain bertujuan untuk menyemarakkan dan menghidupkan masjid dengan akitifitas positif yang membangun tak saja moril/ruhiyah namun juga intelektualitas dan wawasan pemikiran.

Berbagai bentuk kegiatan, mulai dari Bimbingan Studi Quran (BSQ), Studi Islam Intensif (SII), Kajian Fiqh, hingga kegiatan sosial, semisal bimbingan anak asuh (PAYISC) dan forum-forum diskusi ilmiah/kepemimpinan ditegakkan. Saat berada di dalam arus kegiatannya, siapapun akan tersenyum bangga melihat mereka memuliakan dan menyantuni anak-anak yatim serta mendidik anak-anak tak mampu dengan tulus ikhlas.

Semangat muda yang dilandasi ketulusan inilah yang menarik saya untuk ikut serta berada di dalamnya. Semangat mencari ilmu dan beramal, menyatukan potensi dan mengambil peran untuk membangun generasi bangsa. Karena bukankah cikal bakal suksesnya suatu bangsa terletak pada moral pemudanya. Bila moral para pemuda rusak, maka rusaklah bangsa tersebut. Dan sebaliknya, jika mental kaum muda terbangun positif maka tak diragukan akan tumbuh tunas positif pembangun bangsa. Moral positif itu hanya ditemukan pada orang-orang pencari ilmu di masjid-masjid dan tempat-tempat lain yang mengadakan pengkajian untuk komitmen pada ketaatan pada Al Quran dan As-Sunnah. Dari sinilah, YISC Al Azhar memulai pembangunan moral itu.

Karena itu, semangat kaum muda ini patut mendapat tempat agar terus menyebar benih calon pembangun bangsa bermental positif, berakhlak mulia yang cinta agama, yang selalu mengajak kepada kebaikan. Sehingga pada saatnya jika saya, sebagai salah seorang anggota YISC ditanya, “Mengapa betah berlama-lama berada di masjid ini? Maka saya akan menjawab, di masjid ini hati saya menjadi tenang.“

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekahlah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang –orang yang mendapat petunjuk.” ( At Taubah : 18)

Tulisan ini juga diikutsertakan dalam lomba Notes FB Contest YISC Al Azhar Hamaasah dalam rangka sosialisasi Masa Penerimaan Anggota Baru (Maperaba) 2012. Kalau ada yg mau tau ttg YISC lebih jauh atau ingin mendaftar, klik disini ya : http://ppab.yiscalazhar.org/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s