Hati, di Suatu Hari ..

Hari ini saya mengalami hari yang berat. Entah mungkin karena sempat tertidur usai bangun subuh tadi, hingga badan menjadi lesu dan kuyu. Dan karena badan yang berat dan kaku ini, otomatis membuat mood semuanya menjadi tak nyaman. Pikiran menjadi suntuk, kerja juga jadi mengutuk-ngutuk.

Huhuhu…kok bisa gitu?

Yah, karena semua bermula dari hati yang sempit. Yah, hari ini saya mengalami apa yang sering dibilang orang sebagai bad day? Waduh…serem banget ya. Tapi, begitulah kondisinya. Setelah dirunut-runut, ternyata bermula dari jam terbang kegiatan saya di luar itu full padat merayap ga pernah berhenti. Dari senin sampai minggu, ketemu senin lagi sampe minggu lagi, terus dan terus tanpa jeda istirahat di rumah. Ckckck, pantesan aja badan langsung ngedrop gitu.

Yah, hari ini hasilnya yang saya rasakan. Badan remuk, dan tanpa tenaga. Padahal, biasanya jika sedang kelelahan, saya langsung berolahraga, jogging sedikit hingga mengeluarkan keringat, dan setelah itu badan langsung segar. Tapi, hari ini saya tak bisa menyempatkan olahraga, karena sempat tertidur hingga bangun kesiangan dan terlambat sampai kantor.

Entah kenapa, dengan kondisi badan loyo seperti pagi ini, pikiran dan dada saya juga terasa sempit. Saya merasakan, pekerjaan jadi terasa begitu berat. Hingga yang ada saya banyak mengeluh jika ada inquiry dan permintaan dari customer. Masya Allah. Apakah karena hati saya menjadi sempit?

Hal ini terkait dengan tulisan saya di bab sebelumnya, tentang  awal hari ini menentukan akhir hari ini.  Bahwa jika, saya memulai hari ini dengan amalan yang baik dan berpikir positif, maka semangat akan terus mengiringi pekerjaan dari pagi hingga sore. Sehingga, sepanjang hari saya akan mengalami hari yang menyenangkan. Langkah terasa ringan, dan pekerjaan seberat apapun akan dijalani tanpa keluhan. Namun bagaimana jika sebaliknya?

Setelah saya menulis tentang hal tersebut, ternyata tak dipungkiri, hari ini saya mengalaminya sendiri. Betapa betenya mengalami bad day. Hari ini, saya begitu cepat lelah. Telepon yang berdering menjadi momok. Dalam pikiran saya, semua yang menelpon itu minta dilayani, sedangkan saat itu saya sedang tidak mood untuk melayani orang karena kondisi badan yang sedang lelah. Sehingga saya menjawab telepon dengan tidak ikhlas, dan tentunya muka yang jutek. Ckckck padahal, sebenarnya di hari lain, saya begitu ramah dan senang saat menyapa dan menjawab telpon yang masuk. Entah, hari ini saya seperti berteman dengan syeitan.

Sambil mengerjakan tugas-tugas dari bos, saya mencoba mendengarkan lagu-lagu  yang semangat untuk memunculkan spirit. Ajaib, biasanya saya begitu mudah bersemangat hanya dengan mendengarkan lagu-lagu yang ber-beat menghentak dan ceria. Tapi, kali ini nihil. Saya tetap loyo dan bibir tetap tertekuk. Di sore hari, saya menyelesaikan report dengan berat hati, dan hanya menggunakan sisa akal yang masih ada. Akhirnya, setelah usai bikin report dan bersiap pulang kantor karena hari sudah gelap, saya mencoba menelpon salah seorang sahabat.

Sudah lama saya tak menyapanya, karena alasan klise, kesibukan yang tak mengenal batas hingga lupa menyapanya, bahkan via sms. Setelah menanyakan kabarnya, mulailah saya curhat tentang kondisi hari ini.  Sahabat itu mendengarkan dengan sabar. Dan memberi saran bahwa kelelahan saya adalah hal yang wajar karena kesibukan yang tak pernah berhenti. Namun, kesibukan sayadalam menuntut ilmu di akhir pekan menurutnya sudah terlalu overload dan butuh untuk dikeluarkan, karena sudah luber. Saya langsung menangkap maknanya. Bahwa selama ini sering mengikuti kajian ini dan itu, seminar ini dan itu, tapi begitu jarangnya saya membaginya lagi kepada yang lain. Dengan kata lain, saya jarang sharing untuk berbagi kepada teman-teman dan sahabat, termasuk dirinya. Deg, saya baru tersadar, bahwa selama ini terlalu egois, sibuk mengisi diri sendiri dengan kebaikan, motivasi dan ilmu. Tapi, ketika itu semua sudah pada titik puncak kelelahan, saya seolah mendapat teguran bahwa semua pun harus dibagi. Bagaikan gelas, jika sudah penuh diisi, maka airnya akan jadi luber. Begitu pula ilmu, jika sudah terlalu banyak dan tidak dikeluarkan/dishare makan akan hilang karena tumpah.

Dari saran sahabat ini, hati saya mulai sedikit plong, bahwa saya merasa hampa dan bete, karena jarang sedekah ilmu, berbagi baik dalam hal materi maupun non materi. Non materi bisa berupa ilmu pengetahuan. Selama ini, aku selalu saya selalu mendapat kan sesuatu dari orang lain. Sekarang, saya harus memberikannya kepada yang lain. Karena itu, saya mencoba memberikan apa yang saya dapatkan semuanya melalui tulisan-tulisan saya.

Karena ternyata berbagi itu merupakan kegiatan positif yang dapat mengobati penyakit hati yang keras. Begitulah, saran menarik dari sahabat saya. Luv u sahabat. -* ^^

(Ketika Hati sedang Lowbat Series, dapatkan bukunya via pemesanan dengan discount menarik. Sama sekali engga niat promosi, tapi kok ya jadi tertulis kalimat-kalimat ini :D)

Diari Ana Mardiana, 9 Desember 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s