Karena Hidup Tidak Sendiri

Siang yang terik, kota Tangerang tampak makin panas. Seorang nenek berusia 70-an tahun tertidur pulas bersama 2 orang cucunya. Bau tak sedap aroma kambing yang menyengat, sama sekali tak mengganggu penciumannya. Bahkan, beberapa kotoran kambing yang berserakan di dekat tempat tidurnya, pun tak digubrisnya. Wajah tirus dengan badan yang kurus itu tak dapat menyembunyikan guratan kesulitan dalam mendapatkan pangan hidup. Sejak rumahnya digusur pemda setempat Tangerang dan tak mendapat ganti rugi,

Mak Ida, begitu nama nenek ini, tak tahu lagi harus tinggal dimana. Akhirnya, ia memilih menempati kandang kambing yang cuma seukuran 2×2 meter. Beratap terpal, berdinding bambu yang sudah lapuk dan jarang-jarang, serta berlantai bambu bekas dialasi tikar dan kasur tipis bekas. Nyaris, tak ada perabot apapun didalamnya.

Sebuah tempat yang tidak layak dihuni manusia, karena tempat itu adalah sebuah kandang kambing. Sebelum rumahnya digusur, Mak Ida berjualan manisan. Namun kini, ia hanya bekerja serabutan, menjual sedotan bekas atau kacang goreng dengan mendapatkan uang Rp 8.000 per hari. Dengan hasil tersebut, Mak Ida mengaku setiap hari kadang bisa makan dan kadang tidak makan. “Pertama rumah saya kebakaran, semua barang-barang milik saya habis. Saya hidup susah ditempat yang lama, eh sekarang digusur lagi,“ katanya lirih. Tapi, nenek ini tak mau menunjukkan beban hidupnya di depan cucunya. Seolah ia mengatakan, apapun yang terjadi, kita harus bertahan hidup. “Memang ini nasib saya, tapi saya percaya Allah mengasihi hamba-Nya.” Tambahnya lagi. Di usianya yang sudah senja, ia hanya bisa berharap uluran tangan orang lain untuk dapat menempati rumah yang lebih layak, untuk anak dan cucunya kelak.

Kisah di atas adalah nyata. Dan Mak Ida tidak sendiri. Masih banyak Mak Ida lain yang mengalami nasib sama, bahkan lebih buruk. Sebuah fenomena miris diantara puluhan bahkan mungkin ratusan realitas kemiskinan di sekitar kita, negeri Indonesia yang katanya makmur, gemah ripah loh jinawi. Menyaksikan kondisi Mak Ida tersebut, batinku berteriak : Mengapa pemerintah yang menggusur rumahnya tak dapat bertanggung jawab, memberikan sekedarnya untuk keperluan sandang dan papan mereka. Ataukah, hati nurani mereka sudah mati tergerus oleh target dan kepentingan pribadi? Aku memikirkan kembali kondisi Mak Ida, bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhan makannya? Lalu bagaimana ia minum, mandi, dan beribadah? Kondisi tempat tinggalnya yang dipenuhi kotoran kambing tentu tak layak untuk kesehatannya. Lalu, apakah yang dapat kulakukan untuk Mak Ida? Aku masih mencari jawabnya. Melalui tulisan ini, aku mengajak diriku membuka ruang hati dan pikiran untuk belajar berbagi, untuk peduli dan tak memikirkan diri sendiri. Karena hidup untuk berbagi, dan juga karena berbagi itu membahagiakan. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan untuk selalu membantu sesama.

Allah berirman: ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imron [3]: 92).

Begitu juga Rasululloh SAW bersabda:

“Barangsiapa yang meringankan beban saudaranya di dunia, maka Alloh akan meringankan bebannya didunia dan akhirat.”

Lalu batinku berkata, aku harus melakukan sesuatu untuk mak Ida!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s