Surga Tak Cuma Buat Mereka

 

Sehat adalah milik setiap orang, dan siapapun tentu sangat menginginkan sehat. Tapi, dalam kehidupan, sakit pun sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Terutama bagi kalangan miskin yang tak mampu dan kurang beruntung dari segi finansial, sakit menjadi kecenderungan sebagai akibat dari tidak terjaminnya sandang dan papannya secara baik. Sebagai contoh, diare, demam berdarah, serta gizi buruk adalah penyakit yang sering terjadi pada orang miskin.

 

Namun, realitasnya sekarang, sehat nampaknya hanya milik kaum berduit. Bagaimana tidak, kaum miskin yang tak memiliki biaya cenderung tak mendapatkan pelayanan ketika berobat. Kondisi ini membuat banyak dari mereka memilih pasrah dan membiarkan penyakit itu hingga berujung pada kematian.

 

Contoh  kasus seperti diberitakan situs www.suaramerdeka.com pada 13 September 2011, seorang pasien bernama Lasminah (66), warga Perumahan Klipang, Tembalang, Semarang, meninggal dunia karena tidak mendapatkan perawatan di Intensive Care Unit (ICU) RSUD Kota Semarang.  Menurut penuturan Yayuk, putri Lasminah, saat dibawa ke RSUD, ibunya dalam kondisi kritis menderita infeksi lambung. Setelah didiagnosa di UGD, ibunya harus dibawa ke ruang ICU. Namun, perawat mengatakan ruang ICU penuh. Kemudian pasien Askes tersebut dirujuk ke kelas III D ruang Arimbi. Di ruangan tersebut ternyata tidak ada penanganan yang lebih lanjut. “Saya tidak tahu penanganannya bagaimana, yang jelas ibu saya hanya diberi infus saja. Dokter pun tidak ada yang datang, sampai ibu saya meninggal, keluh Yayuk.” Kejadian ini sempat membuat Wali Kota Soemarmo HS dan Komisi D DPRD berang, dan menuntut evaluasi terhadap kinerja RSUD tersebut.

Contoh lain, pada 2 November 2011, http://www.antaranews.com memberitakan, bayi bernama Nisza Ismail berusia 8 bulan meninggal dunia di RS Mitra Anugerah Lestari, Kota Cimahi, Jawa Barat akibat terlambat ditangani karena orangtua bayi tersebut tidak mempunyai uang untuk membayar biaya administrasi ruangan dan tebusan obat sebesar Rp500 ribu.

 

Kasus tersebut merupakan contoh dari sekian banyak kasus pelayanan buruk rumah sakit terhadap kaum tak berpunya. Akankah kaum miskin terus bernasib seperti ini?

 

Beruntung ada sebuah lembaga nirlaba bernama Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) yang seolah menjadi angin segar ditengah teriknya gurun, bagai seteguk air di jelaga dahaga. Lembaga yang berada di bawah Dompet Dhuafa ini turut serta menjadi penolong si miskin dalam hal menangani kesehatan tanpa memungut biaya sepeserpun. Lembaga yang terletak di kawasan Ciputat, Jakarta Selatan ini menjadi semacam klinik gratis tapi dikelola dengan professional. karena didukung oleh tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang memadai. LKC juga menyediakan layanan jemput ambulans bagi pasien yang lemah dan tak mampu berjalan. Bahkan, para dokternya kerap turun ke lapangan untuk program penanganan korban bencana. Selama kurun 10 tahun berdiri, LKC bertahan dengan dukungan dana dari para donatur. Patut diacungi jempol atas semua ketulusan yang telah ditorehkan tim LKC.

 

 

Sekiranya setiap kita memiliki sikap peduli yang sama dengan tim LKC, niscaya akan banyak jiwa yang terselamatkan dan terbantu kesehatannya. Kini, giliran saya dan anda untuk memunculkan rasa peduli tersebut, hingga sehat tak hanya milik kaum berduit, hingga sehat mutlak merata milik semua orang. Agar, pahala surga pun mengalir kepada kita, Agar surga tak hanya milik mereka. Lalu, tak tertarikkah kita beroleh surga dengan membantu si miskin?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s