Naskah Ditolak?

Beberapa hari yang lalu saya mendapat email balasan dari penerbit bahwa (setelah masuk seleksi), draft novel sy tidak dapat diterbitkan. Hmm…tentunya gurat kecewa sempat membekas di dasar hati saya. Tapi, alhamdulillah saya sudah punya ilmunya, jadi saya berusaha untuk tidak larut&berlama-lama dalam rasa kecewa.

Sebenarnya, saya juga paham karena naskah novel itu adalah naskah non fiksi perdana saya yang saya memang sedang belajar untuk menerbitkannya. Karena sebelumnya saya biasa menulis naskah fiksi. Jadi,  menurut saya sangat wajar jika naskah itu tidak lolos.

 

Saya ingat bahwa buku pertama saya  pada awalnya juga pernah ditolak oleh sebuah penerbit di Jakarta. Tapi kemudian, naskah itu dilirik& malah diterbitkan oleh Tiga Serangkai, penerbit yang lebih punya nama besar dibanding penerbit yang menolak naskah saya tadi.

 

Jadi, dari sini saya tahu ilmunya, bahwa naskah ditolak itu bukan berarti naskah itu tidak baguus, tapi karena belum pas dengan penerbit, alias belum jodoh dengan penerbit. Karena, ada penerbit yang tidak cocok dengan ide naskah kita, tapi ada juga yang tertarik dengan ide tersenbut. Karena memang, penerbit itu punya misi&visi yang berbeda-beda. Yang penting, naskah kita punya nillai jual yang bisa bersaing dengan naskah lain. Ada seorang penulis (saya lupa namanya) naskah novelnya pernah ditolak penerbit di Indonesia, tapi justru diterima & malah diterbitkan di Amerika.

 

Saya juga ingat penulis besar Ary Kinoysan, penulis sukses yang bukunya sudah 70-an lebih.  Dia mengaku, naskahnya pernah ditolak 121 kali, sebelum akhirnya cerpen pertamanya dimuat di media.  Kemudian dia bilang,” Tidak ada urusan bakat dalam menulis, hanya perlu niat yang sungguh-sungguh dan terus belajar untuk bisa menulis dengan baik yang diterima media. ” Dia juga menyayangkan kenapa banyak penulis yang mau eksis secara instan, alias ditolak sekali sudah kecewa dan kapok mengirim naskah. Wah, wah saya jadi malu, baru ditolak beberapa kali tapi sudah mulai engga produktif. 😉

 

Untuk itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi semangat bahwa penolakan penerbit itu hal yang biasa banget, dan justru banyak penulis besar yang sukses dari ditolak dulu awalnya, contohnya seperti mba Ary tadi. Dengan ditolak penerbit itu, kita jadi tahu kekurangan kita& lebih bersemangat untuk memperbaiki naskah tersebut. Jadi, bukan penulis namanya kalau belum pernah ditolak.

Memang, untuk mengawali sebuah kesuksesan diperlukan proses, kerja keras &kerja cerdas. Engga ada yang instant. Ingat Thomas Alva Edison? penemu bola lampu pijar yang berhasil setelah 999 (ada yg bilang 9.999) kali melakukan percobaan? Lihat, semakin banyak gagal, maka semakin sukses. Karenanya, boleh berbangga bagi yang pernah berkali-kali gagal tapi tak pernah putus asa. Karena itu cikal bakal suksesnya dia. Jadi, tetap semangat & tetap produktif yaa ^^

“Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan, sungguh setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al Insyirah; 5-6)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s