Menulis dengan Hati

 

Kata-kata itu, bisa mati. Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis dengan lirik yang indah atau semangat. Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul dari hati orang yang kuat meyakini apa yang dikatakannya. Dan seseorang mustahil memiliki keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannya, kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan dalam dirinya sendiri, lalu menjadi visualisasi nyata apa yang ia katakan.

–Sayyid Quthb”

Beberapa hari ini saya merenungkan apa yang selama ini sudah saya tulis.  Dari beberapa tulisan saya baik di buku yang sudah diterbitkan ataupun di artikel yang pernah saya posting, banyak orang menilai, tulisan saya bagus dan mencerahkan. Tapi, terus terang (curcol hehe), akhir-akhir ini saya merasa tulisan yang saya tulis seperti tak berenergi.

Bahkan ketika saya menulis naskah  untuk sebuah lomba karya tulis, naskah itu nyaris tak mendapat respon yang bagus dibanding beberapa tulisan  yang saya nilai lebih membumi. Ketika sahabat saya mengomentari, ia bilang bahwa tulisan saya tidak dari hati, seperti tulisan saya sebelumnya.

Hmm, ternyata itu jawabannya. Betul sekali kawan, saya memang baru menyadarinya. Tulisan yang dari hati maka akan sampai ke hati.  Saya merasa beberapa tulisan terakhir, saya tulis dengan ramuan pikiran dan gaya-gaya sastra yang terlalu dibuat-buat. Jadi, sejatinya bukan mengalir dari hati.  Selain itu,  beberapa bulan terakhir saya memang tidak banyak baca buku, sehingga otomatis tulisan saya pun kering dan mungkin hanya semata goresan kalimat yang tak banyak berarti.

Begitulah kekuatan hati, mampu menembus relung makna siapapun meski harus disampaikan dengan kata-kata.  Dan, kata-kata akan sukses termaknai karena kekuatan hati.

Jadi, kembali saya teringatkan dan mengajak diri saya untuk meluruskan niat bahwa menulis memang harus dari hati, dan murni tidak bertujuan agar tulisan kita ingin dipuji banyak orang. Tapi, bagaimana agar tulisan bisa mencerahkan dan banyak membawa manfaat buat orang banyak.

Seperti kutipan Sayyid Quthb diatas, tulisan itu juga harus ditulis  dengan keyakinan yang kuat. Tulisan hanyalah kata-kata yang mati bila tidak lahir dari hati yang tak yakin, meski penuh dengan ramuan sastra dan keindahan gaya bahasa.

Okey, mari kembali menulis dengan hati \^_^/

Advertisements

One response to “Menulis dengan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s