BAGAIMANA CARA BAHAGIA?

 

 

Judul Buku          :  Belajar Bahagia, Bahagia Belajar

Penulis                :  Ida S Widayanti

Penerbit              :  PT. Arga Tilanta

Cetakan               :  I (Pertama)

Tebal Halaman  :  186 halaman

 

“Selamat berbahagia ya,” begitu kalimat singkat yang kerap diucapkan beberapa orang kepada pasangan pengantin yang baru saja menikah. Bahagia, kata ini seolah menjadi penanda yang mewakili pernikahan sebagai simbol kebahagiaan. Namun, apakah sejatinya bahagia itu diperoleh hanya dengan menikah?  Lalu mengapa ada perceraian setelah pernikahan?  Dan, mengapa ada pasangan yang mengaku tak bahagia setelah menikah dengan pasangan pilihannya sendiri?

Kebahagiaan sekilas tampak mudah di dapat. Bagi sebagian orang yang dikaruniai kekayaan mungkin bisa membeli semua materi yang bisa membuatnya bahagia.   Namun, apakah benar demikian?   Christina Onasis, orang terkaya di dunia pada masanya memiliki kisah hidup yang tragis karena mencari kebahagiaan. Ia bunuh diri setelah empat kali menikah dan mengaku belum juga menemukan kebahagiaan . Ia mengatakan,” Aku adalah perempuan terkaya di dunia namun  yang paling tidak bahagia. Lantas, dimanakah gerangan bahagia itu?

Jawabannya ada dalam penjabaran buku ini.  Buku yang mengurai kisah-kisah sederhana namun sarat makna, juga menyorot hikmah dalam kehidupan sehari-hari tentang makna bahagia.

Buku ini juga cocok untuk cemilan para ibu-ibu dan calon ibu dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.  Bahwa untuk bahagia itu tak serta merta secara instan begitu mudah didapat, namun dibutuhkan belajar sebagai prosesnya. Dan bahagia itu, seperti yang dipaparkan dalam buku ini, terletak bukan pada hal-hal yang terlihat secara kasat mata alias materi belaka, namun kebahagiaan hakiki yaitu hati nurani dan kesantunan akhlak. Data yang diungkapkan penulis tentang alasan tertinggi pria berselingkuh terutama disebabkan karena ketidakpuasan emosional bukan karena hal yang sifatnya fisik, cukup menjadi bukti bahwa kebahagiaan menjadi hal yang relatif dan non materi.  Kecantikan dan kekayaan bisa saja membawa bahagia, namun sesaat kemudian setelah cantik dan kaya itu hilang, bahagia juga melenggang. Jadi, bahagia hakiki itu terletak pada keluasan hati untuk selalu bersyukur dan menerima semua ketentuan-Nya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s