What a Wonderful ‘Child’!

 

Bagaimana reaksi kita saat melihat bayi yang lucu yang sedang memain-mainkan jari jemarinya sambil ia masukkan jari-jari itu ke mulutnya lalu mengeluarkan suara celoteh yang lucu?  Tentu  suatu hal yang menyenangkan bukan?

Apa yang kita pikirkan ketika melihat anak usia 5 tahun sedang asyik menendang bola? Perasaan senang karena melihat mereka asyik bermain?

Lantas, bagaimana pula reaksi kita saat menghadapi seorang anak berusia 2 tahun saat dia rewel, lalu ngompol sembari memain-mainkan air  pipisnya yang masih tergenang di lantai? Tentunya kita akan jengkel dan tidak suka melihatnya bahkan kita akan berteriak sambil melarang perbuatan tersebut.

Begitulah dunia anak-anak, di satu sisi bisa membuat menyenangkan dan menjadi hiburan tersendiri namun di sisi lain membutuhkan kesabaran dalam menghadapinya.

Disinilah peranan ibu, dan orang-orang terdekat di sekeliling anak tersebut yang akan menentukan anak akan menjadi pintar atau tidak. Anak akan menjadi baik atau jahat, tergantung dari stimulus yang diberikan dari pendidikan di sekitarnya. Tentu kita akan bisa membedakan, mana anak-anak yang terdidik dengan baik dan tidak dari caranya berbicara dan berperilaku. Ada anak-anak yang mampu berbahasa dan bersikap santun, bahkan bahasanya sudah tertata dengan baik, namun ada juga anak yang nakal, gemar berteriak-teriak, dan selalu berkata kasar baik pada orangtuanya maupun pada teman-temannya.

Perilaku tersebut tentunya berasal dari orang-orang sekeliling yang memberi contoh dan stimulus pada anak-anak tersebut. Orangtua yang gemar berteriak dan marah-marah dalam melarang anak-anaknya ketika dia nakal, tentunya akan menghasilkan anak yang juga nakal dan gemar berteriak-teriak, dan sebaliknya, orangtua yang menghadapi kenakalan anak-anaknya dengan sabar dan bijaksana sambil memberikan penjelasan yang baik maka, anak tersebut akan menjadi baik pula. Karena setiap hal yang terjadi akan terekam dalam otak anak, baik dan buruknya. Sehingga, orangtuanya sendiri yang akan menentukan, anak akan mendapatkan stimulus yang negatif atau positif. Dan hanya orangtua yang bijak yang akan menganggap semua yang dilakukan anak adalah sebuah pembelajaran.

Seorang doktor pendidikan anak usia dini dari Amerika Serikat, Dr. Pamela Phelp, PHd, mengatakan, tak ada yang sia-sia dalam setiap pengalaman anak. Bahkan ketika dia menendang bola saja, banyak perkembangan yang terjadi, yaitu perkembangan motorik, dia belajar konsep diri (self concept), dan bagaimana dia belajar membangun kesehatan fisiknya. Begitu juga seorang bayi, dengan hanya melihat dan mendengar saja, dia sedang banyak belajar. Dalam sebuah penelitian di dapat bahwa terjadi kerja otak yang sangat dahsyat pada bayi yang sedang melihat dan mendengar sesuatu.

Pamela mengatakan, setiap apapun yang kita lakukan akan mendukung semua area perkembangan dari setiap anak. Dan setiap pengalaman anak membangun semua domain perkembangannya. Contohnya adalah anak yang menendang bola, dia sedang belajar perkembangan motorik. Karena itu, kita, orang dewasa (orangtua dan guru) harus mengetahui tahapan perkembangan mereka, juga tahapan bermain mereka. Jadi, harusnya tidak ada ibu-ibu yang melarang anak-anaknya bermain kotor, atau para ibu yang over protected melarang anak melakukan ini atau melakukan itu. “Ini bahaya, nak,” atau “Duh, jangan kesitu! “Jangan pegang itu!” Tapi, sebaiknya, arahkan keingintahuan mereka dengan memberikan makna. “Ini fungsinya buat apa?”, dan biarkan anak mengalaminya. Karena, dari pengalaman anak belajar. Misalnya, ketika anak mencampur air berwarna merah dan kuning, betapa senangnya ketika mereka menemukan warna jingga. Itu adalah sesuatu yang baru bagi mereka, dan proses itu akan diingatnya seumur hidup.

Karena itu, buat para ibu yang ingin membuat anaknya nyaman dan selalu bahagia, maka berbahagia dan tersenyumlah, agar mereka juga dapat belajar dalam tahapan usia mereka masing-masing.

Jika anak banyak di cela, ia akan tebiasa menyalahkan
Jika anak biasa dimusuhi, ia akan terbiasa menentang
Jika anak mengenyam rasa aman
Ia akan terbiasa mengandalkan diri dan percaya orang sekitarnya
Jika Anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian :
”Sungguh Indah dunia ini!”

Bagaimanakah anak Anda?
(Dorothy Low Nolte, Children learn what they live with)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s