Cerpen

 JODOH TERAKHIR

 

Jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Tiba-tiba Wina terbangun. Lagi. Untuk kesekian kalinya ia terbangun ditengah malam. Entah bermimpi buruk atau tidak. Tapi, sepertinya pikirannya tak bisa menyatu dengan raga yang menuntut untuk tidur dengan nyenyak. Berbagai hal berkecamuk dalam pikiran. Berulangkali ia mencoba memejamkan mata, tapi tak juga berhasil. Pikirannya kemudian mengembara tak tentu arah.

 

Masih terngiang pembicaraannya ditelpon dengan Danu, sebulan lalu. “Aku sih inginnya calon istriku nanti benar-benar tak hanya cinta dan sayang sama aku, tapi juga anakku.” Terngiang lagi saran beberapa teman terdekatnya, “Kalau bisa sih yang masih single Win, karena kan lebih enak punya anak kandung sendiri.” Ya Allah, bisakah aku bersuamikan duda yang punya anak? Bisakah aku menyayangi anaknya yang baru berusia 3 tahun? Bisakah aku tulus mencintainya sepenuh hati?” Akankah proses kali ini berjalan lancar? Atau gagal seperti yang sudah-sudah? Aku tak mau lagi terluka dan juga membuat orang lain kecewa. Beragam pertanyaan menggelayut dalam pikiran Wina.

 

Ingatannya berlari beberapa tahun kebelakang. Sejak kuliah, beberapa lelaki sudah pernah singgah dalam hatinya untuk menyatakan diri dalam satu kata : Menikah! Namun, beberapa kali itu juga prosesnya berujung pada satu kata : belum jodoh! Entah kenapa, ketika memutuskan ada saja yang membuatnya ragu untuk menyatakan “Ya, aku akan menikah dengannya. Aku tak tahu apakah aku terlalu banyak pertimbangan, ataukah benar kata orang bahwa aku terlalu pemilih. Hmm…kalau saja mereka tahu, kriteriaku tak banyak. Aku hanya memilih pria yang saleh, bertanggung jawab dan bisa menjadi imam buat agama dan kehidupanku. Itu saja. Satu lagi yang paling penting, kalau bisa dia lebih tua dari usiaku. Aku memang menginginkan laki-laki yang dewasa, tak hanya dari segi pembawaan, tapi juga matang usia dan pengalaman. Disamping, menghindari sikap inferiority.

 

Entah mengapa lelaki yang pernah mampir dalam hidup Wina tak ada yang berhasil meluluhkan benteng hatinya. Padahal usianya kian beranjak melewati angka 30. Usia yang kalau kata orang sudah terlambat untuk belum menikah. Iapun pastinya tak mau dibilang perawan tua. Jika ada acara reuni kumpul dengan teman kampus, hanya Wina yang masih lenggang kangkung, sementara teman-temannya sudah berbuntut. Ada yang punya anak satu, dua, bahkan tiga. Berulang kali, teman, bahkan hingga bosnya dikantor menjodohkan dengan kenalannya. Tapi, lagi-lagi faktor usia yang menjadi kendala. Wina merasa belum sreg dengan laki-laki yang jauh di bawah usianya. Beberapa teman mengingatkan, bahkan mencibir, “Mau cari apa lagi sih Win, keburu habis stoknya.” Atau ada yang mengatakan, Wina sih terlalu pemilih, makanya belum nikah-nikah.”

 

Wina hanya tertawa miris mendengar komentar tersebut. Rasanya ia sudah kehabisan gaya menghadapi berbagai komentar tentang statusnya yang masih menjomblo di usia 30 tahun lebih. Kini, seolah ia membenarkan komentar temannya. “Keburu habis stoknya.” Apa memang sudah habis stok laki-laki tulen, yang bersedia menikah denganku?” Apa memang para perjaka di seluruh dunia ini sudah menikah semua hingga hanya menyisakan seorang duda untukku?” Atau karena ini pilihanku sendiri yang tak menginginkan pria muda? “Hhhhh…,” Wina mendesah. Kalau saja aku bisa protes,”Ya Allah, aku pun tak ingin pilih-pilih, tapi bantu aku memutuskannya!”

 

Setahun lalu, Yuk Dila, istri ustad Fahri, tetanggaWina menawarkan rekannya untuk dikenalkan kepadanya. Pagi-pagi, Yuk Dila menelponnya di kantor. Seperti sesuatu yang penting, pembicaraannya ternyata berujung pada menyodorkan seseorang yang sedang mencari istri. Entah itu jawaban solat hajadnya di malam sebelumnya, Wina tak tahu. “Orangnya sabar mba, sepertinya cocok dengan mba Wina.”

 

“Hmm…seorang duda. Istrinya meninggal 2 tahun lalu, meninggalkan seorang anak laki-laki berusia 3 tahun. Awalnya aku setengah hati menerima tawaran tersebut. Maklum aku tak pernah dekat dengan seorang duda. Tapi, masukan ayah membuatku berubah pikiran.

“Duda itu bisa lebih berhati-hati dalam berumahtangga. Tentu ia tak ingin gagal untuk pernikahan keduanya, apalagi ini duda cerai meninggal,” kata Ayah.

Kata-kata ini yang membuat Wina maju untuk menerima tawaran Yuk Dila. Dan beberapa kali, Wina berbicara dengan Danu di telpon. Dari pembicaraannya, sepertinya ia berakhlak baik dan sopan. Ia pun seringkali berpuasa senin kamis. Namun, entah kenapa tiba-tiba Danu  menghilang tak jelas rimbanya.

 

Jarak yang jauh di Sumatera cukup membuat proses komunikasi agak tersendat, karena belum sekalipun Wina bertemu Danu. “Aku sendiri masih belum menemukan kepastian akankah proses ini berlanjut ke jenjang pernikahan? Aku hanya menginginkan, kalau proses kali ini tak berbuah kecewa dan luka lagi.” Wina memandang langit-langit kamarnya. Pandangannya kosong. Pikirannya merambah ke masa silam.

 

Dua tahun lalu, telah hadir seseorang di hatinya. Raditya. Waktu itu, guru ngajinya, Ustadzah Aminah mempertemukannya dengan Raditya. Raditya, laki-laki Padang dari keluarga sederhana, lulusan Universitas Andalas jurusan akuntansi.

Kalau saja tak mengalami jalan buntu, Wina hampir menikah dengannya. Setelah 3 bulan berproses dengannya, dan menyatakan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, entah kenapa proses yang dijalani berujung pada perpisahan. Awalnya, Wina seolah mendapat petunjuk. Di akhir istikharah bertepatan pada malam 29 Ramadhan, ia bermimpi dipertemukan dengan lelaki yang lain. Dan, mimpinya dalam tidur menjelang tahajjud itu ia anggap salah satu jawaban atas keraguannya beberapa hari terakhir menjelang keputusannya. Berbagai permasalahan kemudian timbul. Raditya tak menunjukkan sikap gentleman sebagai lelaki yang percaya diri. Ketika ditantang Ayah Wina untuk lebih cepat melamar ke rumah, ia belum memberi jawaban pasti yang menyenangkan Ayahnya. Raditya malah mendesak Wina.

“Bagaimana dengan perasaanmu padaku, Win? Apa kamu sudah yakin 100 % akan menerimaku? Aku ga mau ketika datang melamar kamu, tapi kamu masih ragu. Dan aku ga mau hal yang memalukan keluargaku terjadi : Kamu menolak lamaranku. Mau ditaruh dimana muka keluargaku?“

 

Ditanya seperti itu Wina justru semakin meragu. Didesak untuk memberi jawaban yang pasti justru membuat hatinya semakin sulit untuk menjawab. Padahal, kalau saja Radit tak mendesaknya, dan berani datang untuk melamar, ia pasti akan salut dan menerima pinangannya. Tapi, tiba-tiba jauh di lubuk hati yang paling dalam, sebongkah keraguan mulai terbuka. Entah kenapa, Wina pun tak tahu. Ayah sendiri ketika ditanya pendapatnya mengenai Raditya, dia hanya terdiam seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Wina tahu kalau Ayahnya bersikap seperti itu, berarti ada hal yang tak disukainya terhadap diri Raditya. Ibuku bilang,” Kok, lelaki ga punya sikap sebagai ksatria, masa mau melamar harus pake perjanjian diterima dulu. Engga jentle. “

 

Berbagai keraguan akhirnya berbuntut keputusan. Setelah tak berhasil mendapatkan kepastian jawaban, pada smsnya tanggal 13 Oktober 2007, Raditya memutuskan mundur. Wina menarik nafas panjang. Ada rasa lega di hati karena tak perlu menyakitinya dengan penolakan darinya. Raditya sendiri yang memutuskan. Namun, satu hal yang membuat kecewa adalah, kali ini prosesnya menuju pernikahan gagal lagi!

“Mengapa aku selalu begini? Tiba-tiba sebulir airmata menetes. Sepertinya kata pernikahan itu tak mau hinggap dalam hidupku.

“Astagfirullah!  Buru-buru ia beristigfar.  “Ampuni hamba ya Robb. Hamba tak boleh menyalahkan dan menolak ketentuan-Mu. Siapa tahu ini adalah jalan terbaik hamba untuk mendapatkan lelaki yang lebih baik. Ia mengusir berbagai hal negatif dari  pikiran. Aku memang bukan jodoh Raditya. Akupun hanya bisa meminta maaf dengan Ustadzah Aminah yang kecewa terhadap hubunganku dengan Raditya tak berlanjut.

 

Setelah hubungannya dengan Raditya berakhir, Wina mencoba menata hati, menguatkan jiwa yang pernah nyaris tumbang. Berbagai kegagalan dianggapnya langkah sebuah kesuksesan. Kadang, bayangan Raditya muncul dalam pikiran. Rasa kangen sering muncul untuk sekedar bertegur sapa.

“Hmm kenapa aku bisa kangen begini? Tiga bulan mengenalnya, rupanya meninggalkan kesan mendalam yang cukup menghadirkan sosok Raditya dalam hatiku. Intensitas komunikasi via handpone rupanya membuat  benang-benang cinta kami mulai terajut. Berulang kali, aku ingatkan untuk tidak menelpon dan sms sebelum waktu lamaran tiba. Tapi, Raditya tak mau dengar. Dia memohon untuk sekedar sms saja. Dan, aku tak bisa menghindarinya.

 

Wina menepis segala rasa yang sering datang menggodanya. “Ya Tuhan, beginikah rasanya kalau belum menikah? “ Ia tak memungkiri hatinya yang sering dilanda rasa kangen untuk memiliki seorang laki-laki yang memperhatikan dan mendampinginya selalu.  Tapi, lagi-lagi Wina hanya bisa mendesah. Ia pun tak kuasa menerka takdir apa yang sedang dirancang Yang Maha Kuasa untuk dirinya. Untungnya, Wina tetap fokus dan menikmati pekerjaannya. Profesinya sebagai auditor menuntutnya untuk kerap bepergian ke luar kota. Seperti yang akan dilakukannya beberapa hari ke depan.

 

“Kita akan mengerjakan proyek khusus. Beberapa staf akan dikirim ke luar kota untuk membuka jalur distribusi, sekaligus mengembangkan jaringan. “Kau Wina, akan ditugaskan ke Kalimantan. Disana cukup besar potensi distribusi barang, “ ujar Pak Pras, bos Wina dalam sebuah meeting. Ia begitu gembira mendapat tugas ke luar kota. Sekaligus bisa menetralisir semua kegundahannya. “Oke Pak, kapan berangkatnya?”

“Mungkin sekitar akhir November. Berarti kamu punya persiapan waktu sekitar 2  minggu untuk membuat rencana perjalanan dan budget yang dibutuhkan. Bagaimana? Siap ya Win?”

“Insya Allah, Pak.”

“Bagus.” Pak Pras tersenyum puas. Sepertinya ia bangga sebagai pimpinan yang memiliki karyawan berjiwa petualang.

Pesawat jurusan Jakarta-Banjarmasin siap lepas landas. Pramugari mengumumkan seluruh penumpang untuk mengencangkan seat-belt. Wina memejamkan mata dan berdoa, kemudian mengencangkan seat-belt. Ia melirik bapak disampingnya. Bapak itu tersenyum ramah. Wina membalasnya dengan senyum seadanya.

“Ikam handak ke Banjar?” Tanyanya.

Wina mengangguk, agak sedikit asing dengan logatnya. Dari logatnya, tampaknya Bapak ini asli penduduk Banjar. “Kalau Bapak asli Banjar ya?” Tanyanya sekaligus mempertegas penilaiannya kalau ia bukan penduduk Banjar.

Mendengar logat Wina, Bapak tersebut mengubah bahasanya. “Ooh adik ini bukan orang Banjar rupanya. Kalau saya asli sana, dik. Martapura tepatnya. Sekitar 50 km dari bandara.

 

Wina hanya ber-ooh ria, sambil tersenyum. Bapak ini sepertinya orang baik-baik. Ia mulai merasa nyaman dan tak sungkan untuk menjawab pertanyaannya dan berbicara sepanjang perjalanan.  Hingga tak terasa pramugari mengumumkan bahwa pesawat akan segera landing.

“Main-main ke tempat saya dik.” Kata Bapak tersebut sebelum berpisah dengan Wina.

“Iya Pak insya Allah, terima kasih. “ Ujarnya pada pak Sangkan, nama Bapak itu.

Ketika pesawat benar-benar telah mendarat, Wina segera mengambil koper di kabin dan menuntunnya sambil berjalan. Sekilas ia melihat salah seorang aktor sinetron sedang berjalan bersama seorang wanita, entah siapa wanita itu. Beberapa warga keturunan tampak di belakangnya. Rupanya, Banjarmasin ini menjadi salah kota yang cukup menarik pendatang dari daerah lain. “Yeah, Banjarmasin, here i come.”

—-

Danu menggeser posisinya perlahan. Tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali. Sejak keluar dari pekerjaannya, 6 bulan lalu, ia nyaris hanya berada di pembaringan setiap hari. Tak menyangka ia harus menerima kondisi yang mengenaskan. Dokter menyerah untuk membantu pengobatannya. Menurutnya, penyakitnya tak bisa diobati secara medis. Antara percaya dan tidak, ia tak menyangka di jaman serba canggih begini masih ada orang-orang jahat yang ‘bermain’ dengan cara-cara seperti ini. Benarkah aku diguna-guna? Hhh…aku tak tahu. Yang jelas, siapapun orangnya, mudah-mudahan Allah mengampuni dosanya, dan diberikan kemampuan untuk bertaubat.

 

Sejak istrinya meninggal dua tahun lalu, Danu yang berparas lumayan ganteng membuat banyak wanita tertarik untuk menawarkan diri menjadi istrinya. Ditambah jabatannya sebagai Sales Manager dan reputasinya yang baik, membuat ia banyak disukai oleh rekan-rekan kerjanya, juga tak sedikit yang menaruh hati padanya. Namun, Danu tak meladeni rayuan mereka yang hampir setiap hari ada saja yang datang ke rumahnya. Entah kenapa, hatinya lebih nyaman untuk menerima kehadiran seorang wanita bernama Wina, meski ia jauh disana, dan masih meninggalkan tanda tanya.

 

Danu pun hanya bisa pasrah dan berdoa. Keluarganya sudah memanggil beberapa dokter untuk menangani penyakitnya, tapi tak ada yang berhasil. Danu hanya pasrah. Ia begitu sedih. Terlebih mengingat proses perkenalannya dengan Wina tertunda, karena kondisinya. Yuk Dila, sepupunya yang memperkenalkannya dengan Wina sempat putus asa. “Oalah… Dan, Mbak hanya bisa berdoa semoga gusti Allah memberikan keajaiban, penyakitmu segera sembuh. Dan kamu bisa menemui Wina ke Jakarta.“

 

Ingin rasanya Danu terbang saat itu juga menemui Wina, untuk melanjutkan perkenalannya. Pembicaraannya dengan Wina beberapa kali di telepon, meninggalkan seberkas harap di hatinya. Ia merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan. Entah itu  rasa nyaman ketika berbicara dengan gadis itu? Atau…..? Ah Danu tak bisa menerkanya. Ia merasakan ada sesuatu yang membuatnya ingin mengenal gadis itu lebih jauh. Tapi, semangat Danu rupanya tak sebesar kekuatan tubuhnya. Untuk bergerak ke kamar mandi saja ia tak sanggup. “Ya Allah, ya Qowiyy….beri hamba kekuatan,” jerit hatinya. Lidahnya kemudian bertasbih sambil menyelaraskan dengan gerakan jari-jarinya yang  menghitung jumlah tasbihnya yang sudah mencapai angka puluhan ribu.

 

Tiba-tiba, sebuah suara menghentikan gerakan lidahnya. “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam Wr Wb. Danu menoleh sedikit ke arah pintu kamar.”Eh, Rangga,” masuk Ngga,” kata Danu tersenyum.

Lelaki yang dipanggil Rangga itu, kemudian menyalami dan memeluk  Danu, dan duduk di sisi tempat tidurnya. Rangga adalah sahabatnya satu-satunya yang rajin menjenguknya.

“Gimana keadaanmu, Dan?”

Danu hanya tersenyum. Rasanya ia sudah lelah menjawab ratusan pertanyaan tentang kondisinya. Ia hanya mendesah menjawab pertanyaan Rangga.

“Eh, aku mau ngasih berita gembira. Aku ada teman di pesantren Al Islah, Ustad Dahlan namanya. Insya Allah beliau bisa mengobati penyakitmu. Beberapa teman yang mencoba, alhamdulillah sembuh. Tapi kau harus menetap beberapa hari di sana. Bagaimana?”
”Danu menarik nafas. Sepertinya hal yang ditawarkan sahabatnya itu sudah pernah dicobanya. Dan, toh penyakitnya tetap bersarang  di perutnya. Tiba-tiba, sebuah lintasan bayangan seorang wanita nun jauh di sana berkelebat. Wina. Ada sebuah semangat yang membuatnya ingin tetap mencoba lagi. “Boleh, Ngga. Kalau bisa secepatnya.”

“Bagus, itu baru namanya Danu, sahabatku  yang berjiwa setegar karang!”

Rangga tersenyum dan memeluk Danu.

 

————

 

Wina meletakkan tas kopernya. Ia duduk sambil meluruskan kakinya. Pegal di badan rasanya baru terasa sekarang. Tiba dari bandara tadi pukul 10, baru nyampe pukul 1 siang. “Hmm…macet, macet masih jadi milik Jakarta. Tapi, pikiranku lebih fresh rasanya. Rasa kangen dengan Raditya mulai hilang. Tapi, mas Danu? Bagaimana dengan dia. Wina mengambil handphone dan melirik inbox pesan. Tak ada pesan. Satu-satunya pesan terakhir Danu adalah pesan yang dikirimkannya sebulan lalu menjelang keberangkatannya ke Banjarmasin. “Wa’alaikumussalam wr wb. Dik Wina, mohon maaf, smsnya baru dibalas. Saya sudah dua hari ini tak bisa bangun, hingga tak bisa jawab telp atau sms. Mohon maaf sekali lagi.”

Ada apa dengannya? Apakah penyakitnya demikian parah, hingga untuk mengirim kabar melalui sms pun ia tak bisa? Hhhhh…. Wina mendesah.

 

Sejak sms terakhir itu, Danu tak pernah lagi menghubungi Wina. Gadis itu pun sudah berkali-kali menhubungi ketiga nomer hpnya, tapi sia-sia. Hpnya sepertinya tak ada yang aktif. Wina kehilangan kontak. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana selain berdoa untuk kesembuhan Danu.  “Ya Allah, apakah ini pertanda, prosesku dengan mas Danu harus berakhir? Ya Allah, beri hamba yang lemah ini petunjuk.”

Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Wina mendesah panjang. “Ya Allah, aku harus bertawakal dan berpikiran positif mungkin ini jalannya sehingga Allah tak memudahkan prosesku dengan mas Danu.”

 

—-

Angin pegunungan Tasik Malaya membelai lembut daerah pesawahan, ditingkahi kicauan burung pipit yang melompati dedaunan. Wina menarik nafas dalam-dalam, dan membuangnya perlahan. Ia benar-benar ingin menyegarkan seluruh pikirannya dengan hawa segar pegunungan. Setelah kepulangan dari Banjarmasin, Pak Pras sedikit lega karena permasalahan agen di Banjar telah selesai. Hal ini yang membuatnya mengizinkan Wina cuti beberapa hari. Dewi, sobatnya sejak kuliah dengan setia menemani kepergiannya ke kota santri itu. Dewi hanya berbeda setahun lebih tua dari Wina. Sejak kuliah, Wina memang lebih memilih Dewi untuk teman perjalanannya. Mereka seperti ditakdirkan bernasib sama : sama-sama masih menjomblo.

“Gimana, Win…lebih fresh kan? Lihat tuh, danaunya subhanallah indah banget.”

“Iya Wi, bentar, aku luruskan dulu kakiku ini. Naik tangga tadi membuat kakiku pegel bukan main.

Untuk bisa melihat danau indah di Gunung galunggung ini, siapapun harus menaiki tangga sejumlah 99 anak tangga.

“Ha…ha baru anaknya tangga ya, kita udah pegel begini, bagaimana kalau ibunya?”

“Haha…dasar kamu Wi…,”

“Eh, by the way, gimana kabar kamu Wi, sudah ada pria yang digebet belum?”

“Hhhhh….tau nih Win, belum juga.”

“Kita nih…kok bisa sama ya Wi, nasibnya.”

“Kamu sendiri , Win, gimana dengan mas Danu?”

“Hhhhh…ga tau ni Wi, aku juga belum bisa memastikan. Dia juga sudah tidak bisa lagi dihubungi.”

“Coba aja diistikharahkan lagi.”

“Iya, aku juga berniat mau melupakan semuanya dulu. Makanya aku kesini Wi. Mau membuang semua resah, dan lebih mendekat pada Dia. Jujur selama ini aku jauh, Wi. Di Jakarta juga aku jarang tahajjud.

“Amiiin. Iyalah Win, semuanya pasti sudah direncanakan-Nya dengan rapi. Tinggal kitanya yang harus dekat sama Dia, biar kita juga diberi petunjuk. Iya kan?

Aku hanya tersenyum mengangguk mendengar perkataan Dewi. Memang benar. Allah yang memiliki segalanya. Dia bisa memberikan segala permintaan hambanya. Dan, masalahnya, permintaan kita belum terkabul hanya karena masalah waktu. Untuk itu, kita sebagai hamba-Nya yang harus selalu mendekat pada-Nya, agar Dia juga dekat dengan kita dan dengan mudah memberikan apa yang kita minta.

—-

Wina mulai melupakan Danu. Ia mulai menjalani hari-hari tanpa memikirkan laki-laki. Berbagai candaan dan cibiran tak kugubris. Sepulang dari Tasik, menikmati alam pegunungan sebagai kuasa-Nya, ia seperti memperoleh kekuatan baru yang bersumber dari ruhiyahnya. Beberapa malam terakhir, Wina selalu menyempatkan diri untuk bangun tahajjud dan bermunajat. “Beri hamba keikhlasan hati untuk menerima segala ketentuan-Mu, ya Allah.” Itu saja doanya. Wina sudah lebih mantap. Ia pun ikhlas jika memang, prosesnya dengan Danu harus berakhir dan Allah menakdirkannya berjodoh dengan laki-laki yang lebih muda darinya. “Bukan karena sudah kepentok usia, tapi aku ingin belajar ikhlas menerima apapun yang Allah pilihkan untukku. “ Begitu prinsipnya.

 

Ramadhan sebentar lagi. Alhamdulillah, momen yang baik untuk menyucikan hati dan lebih mendekat pada-Nya. Kini Wina begitu haus untuk dekat pada-Nya. Beberapa kali dalam solat, ia menangis, menyadari semua kesalahan dan kelemahannya selama ini. Dan hanya kepada Dia Yang Maha Memiliki Kekuatanlah, gadis itu bermohon.

 

Usai solat dhuha yang panjang, Wina merasakan perasaan yang sangat lapang. Ketika bersiap berangkat ke kantor, tiba-tiba, ada pesan yang masuk di ponselnya.

“Assalamu’alaikum Wr Wb. Apa kabar Dik Wina?” Mohon maaf saya baru bisa menghubungi sejak 6 bulan lalu sakit. Sekarang saya di Jakarta, apa bisa kita ketemu ? Saya menginap di hotel Prima, Jakarta Timur.”

 

“Subhanallah, Danu. Rasanya aku sudah ikhlas melupakannya. Tapi, kenapa sekarang tiba-tiba ia sudah di Jakarta?”

Wina segera membalas sms tersebut. “Insya Allah, aku bisa. Sabtu pagi, saya dan teman ke hotel Prima.”

—-

Hotel Prima, pukul 10.00 pagi. Wina dan Dewi celingak celinguk di lobi hotel. Beberapa kali ia mencocokkan foto yang dipegangnya dengan beberapa pria yang berada di lobi.  Pandangannya kemudian terhenti pada sofa di pojok sana. Ada seorang pria bersama seorang anak kecil sedang duduk. Senyum Wina merekah, ketika dilihatnya pria itu sama dengan foto yang dipegangnya. Wina dan Dewi segera menghampiri pria tersebut. Badannya yang tinggi tegap, berbalut jas hitam hingga membuatnya terlihat jauh lebih tampan dari fotonya.  Ketika dekat, Wina sedikit kikuk dan setengah tak percaya. Kemudian, berjalan perlahan ke arahnya. Melihat kedatangan Wina dan Dewi, Danu tersenyum dan menyapa mereka berdua.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam Wr Wb.”

“Dik Wina?” Mas Danu menebak salah satu di antara mereka. Tapi telunjuknya mengarah tepat kepada Wina.

Wina mengangguk, sambil tersenyum. Seperti ada sesuatu magnet yang berdesir dalam hatinya. Seperti ada sesuatu yang bergejolak, entah apa apa namanya. Namun, melihat sosok Danu, ia seperti melihat pangerannya.

Danu tersenyum melihat gelagat Wina yang sedang gugup.

“O ya, kenalkan ini sahabatku, Dewi.” Wina menutupi kegugupannya.

Dewi menelungkupkan tangan ke arah Danu.

“Dan ini, kenalkan, sahabat kecil saya, Kiky.”

Aku tersenyum ke arah Kiky. “Assalamu’alaikum, Kiky.”

Kiky tersipu malu, dan mencium tangan Wina, juga Dewi.

 

“Sebelumnya saya minta maaf kalau baru bisa ke Jakarta. Selama 6 bulan, saya benar-benar diberi ujian oleh Allah. Penyakit saya membuat saya tak bisa bergerak, bahkan untuk menggerakkan tangan. Entah saya juga tak tahu, sakit apa. Tapi, alhamdulillah dengan ijin Allah, saya bisa sembuh lagi. Ada teman saya, yang mempertemukan saya dengan Ustad Dahlan. Beliau mengobati saya dengan metode rukyah. Beberapa bulan saya mondok di pesantren tempat ustad Dahlan, untuk memulihkan kondisi saya. Alhamdulillah, menurut ustad Dahlan, sekarang saya sudah pulih dan boleh pulang. “

 

Cerita Danu yang mengalir begitu saja membuat Wina dan Dewi hanyut terdiam. Jauh, dilubuk hati Wina, ada semacam kekaguman pada diri laki-laki di depannya. Ia begitu sabar menerima takdir Allah. Rasanya……

Belum selesai Wina berkhayal, Danu bersuara lagi.

“Sekarang bagaimana kabarnya Dik Wina?”

Dengan tenang Wina menjawab, Alhamdulillah, “ sambil tersenyum menunduk.

Kemudian, Danu melanjutkan pembicaraannya.

“Terus terang, selama saya sakit, saya selalu memikirkan proses perkenalan kita yang belum tuntas.” Danu mengatur nafas sejenak.

“Jadi, sekarang saya kembali menunggu kepastian Dik Wina, apakah akan melanjutkan proses perkenalan ini ke arah yang lebih serius?” Tanya Danu pelan.

 

Ditanya seperti itu, Wina tersipu malu, sambil memandang Dewi. Dewi mengangguk memberinya keyakinan. Entah kenapa, ada keyakinan yang mendesir dalam hatinya. Keyakinan untuk menerima Danu sebagai calon suaminya. Ditatapnya Kiky. Anak berusia 3 tahun itu begitu lugu dan lucu. Keluguan yang membutuhkan hadirnya seorang ibu, disisinya. Kemudian, Wina menunduk lama.  Batinnya berkata,” Bismillah, jadikan ini ladang amalku pada mereka berdua, ya Allah.

Setelah beberapa menit kemudian, Wina bersuara,”Insya Allah, saya siap mas.”
”Alhamdulillah, kalau begitu, besok juga saya akan ke rumah untuk bertemu orangtua Dik Wina. Dan membicarakan segala sesuatunya.”

Mendengar kata-kata Danu, Wina mengangguk tersenyum. Ada rona bahagia yang melingkupi wajahnya. Ia tak menyangka prosesnya bisa secepat itu.

Dalam hatinya, ia teringat akan doa dalam tahajjudnya. Ingat pula kata-kata Ustad dalam sebuah ceramah,”Jika Allah berkehendak, maka tak diakhirkannya sesuatu barang sedikitpun.”

 

Dalam hati, Wina bersyukur dan semakin yakin, bahwa Allah sedang tersenyum ke arahnya, membuktikan bahwa janji-Nya benar. “Terimakasih ya Allah, semoga ini jodoh terakhirku.”

—–

 Cerpen ini dimuat di majalah Alia edisi November 2009


Advertisements

3 responses to “Cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s