Mentari di Ujung Ilalang

 

Matahari memanggangJakarta. Siang yang panas, pukul 12.00, ia berada tepat di bawah kepala, mencurahkan seluruh sinarnya ke bumi.Parapegawai kantoran hilir mudik.Adayang bersiap ingin beristirahat makan siang, ada juga yang masih berkutat di depan komputer. Kendaraan yang lalu lalang pun tak pernah berhenti dan terus melaju.

 

Tegar memijit-mijit kepalanya. Ia meluruskan kaki sambil selonjoran di atas trotoar dekat pohon di samping sebuah gedung. Dihempaskannya lembaran amplop yang masih tersisa 2 buah. Kali ini Tegar benar-benar bingung. Uang di dompetnya tinggal beberapa lembar ribuan. Sedangkan, ia harus pulang ke rumah membawa sesuatu yang bisa dimakan istrinya yang tengah hamil tua.

“Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk terus mencoba…mencari rizki-Mu.” Batinnya perih.

Sudah sesiang ini, ia belum juga mendapatkan apa-apa. Kenekatannya mencari pekerjaan dengan mendatangi kantor-kantor tak membawa hasil. Semua kantor yang ia datangi, menutup mata dan mengatakan,”Maaf tak ada lowongan!”

 

Akhirnya, lagi-lagi Tegar berniat mengorek tabungan di ATM nya yang jumlahnya kian menipis. Di depan mesin ATM, Tegar terpekik menyaksikan saldo tabungannya tinggal berjumlah puluhan ribu. “Ya Allah, aku benar-benar harus mendapatkan pekerjaan, uangku mungkin hanya cukup untuk beberapa hari saja.”

—-

 

“Hmm…alhamdulillah hari ini kita masih bisa makan ya bang. Maira tersenyum sambil melahap nasi,tempegoreng, telur dadar dan sambel hasil beli di warteg. “Iya, walaupun  lauknya begini, tapi namanya kalau lagi lapartempejadi terasa ayam ya de, hahaha, “ ia tertawa bersama Maira. Dalam hatinya, ia bahagia Maira tetap tak pernah mengeluh dengan kondisi yang serba pas-pasan. Dipandanginya wajah istrinya yang tengah hamil tua. Ia makin cantik dengan wajah kemerahan, Tegar bertekad,” Suatu saat aku akan membahagiakanmu, de.”

 

“Eh, abang kenapa bengong?” Tadi gimana pengalaman di lapangan?”

“Lapangan….emangnya abang pegawai lapangan?….Ada juga, abang di jalanan menyusuri kantor, dari pintu ke pintu, kayak lagunya Ebiet G Ade itu loh.”

Maira tersenyum.

“Yah,kanga ada salahnya kita menghibur diri, anggap saja abang memang kerja di lapangan,kanmenyusuri kantor juga kerja. hehe….”

“Iya, tadi sudah hampir…..10 kantor abang datangi, dan sudah 20 lamaran abang kirim via pos. Tapi ya itu, Allah masih menyuruh kita sabar, de.” Kata Tegar pelan sambil menghabiskan suapan terakhirnya.

“Ya, ndak papa…yang penting abang sudah berusaha, toh.”

“Loh, sejak kapan kamu jadi orang Jawa, wong ndak pantes logatmu itu, “ ledek Tegar sambil berusaha mengusap pipi istrinya. Maira tak mau kalah, ia balas mengusap pipi tegar dengan coelan sambel..

“Ah kamu ini de, inikansambel, pedes tau!”

“Ya iyalah, bang, siapa bilang itu ayam, hahaha. “ Pasangan itu kemudian tertawa bersama.

“O ya bang, aku ntar sore mau ngajar ngaji anak-anak sekitar sini. Aku lihat sepulang sekolah mereka mainnya engga karuan, kesana kemari bikin ribut tetangga yang sedang istirahat. Lebih baik mereka belajar ngaji disini. Gimana bang?”

“Wah, bagus itu. Tapi, apa kamu engga cape de? Perutmu itu sudah semakin besar loh.”

“Ah engga, kok.. Justru baguskanorang hamil mengajar al Quran, biar bayinya juga ikut belajar.”

Tegar tersenyum melihat istrinya yang selalu ceria. Ia begitu bersyukur dikaruniai isteri solihah seperti Maira. Kemudian Tegar mengajak Maira solat Ashar.

 

—–

 

Subuh mulai menampakkan hari. Burung-burung mulai bercicit. Ayam mulai berkokok. Angin pun tak mau kalah ikut menghembus dedaunan, rumput dan alam di sekitarnya. Setelah solat subuh dan tilawah, Tegar bersiap mengenakan pakaian resminya.

“Lho bang, mau kemana? Pagi bener?” Tanya Maira melihat suaminya sudah rapi.

“Lhokanabang mau ‘kerja’ di lapangan?”

Maira mengangguk terseyum. “Ooh iya ya….”

“Cari rizki itu lebih baik kalau pagi-pagi sekali, biar keduluan juga dapetnya. Lagian, aku sekalian olahraga pagi toh.”

Maira menggangguk tersenyum. “Hati-hati ya Bang, semoga sukses, “

“Amiin. Makasih ya de, “gumam Tegar sambil mencium kening isterinya, setelah itu perutnya.

“Ayah berangkat ya, sayang, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam warohamtullahi wa barakatuhu.”

 

Tegar melangkah kakinya dengan pasti. Hari ini ia berniat bersilaturahmi ke rumah Eko, temannya yang sudah bekerja di sebuah BUMN. Ia ingin meminta informasi tentang lowongan di perusahaan tempatnya bekerja.

—-

 

“Assalamu’alaikum …” sapa Tegar, dari halaman rumah Eko.

Rumah Eko tak terlalu besar. Namun cukup asri dengan variasi pepohonan yang rindang di halaman rumahnya.

“Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokaatuh. Wah, Tegar, masuk!”

Eko menyambut Tegar anutias. Sudah lama sekali sejak kuliah ia tak bertemu sahabatnya itu.
”Wah, tumben sekali kau bertamu pagi-pagi begini?”

“Iya, Ko, aku sekalian silaturahim. Pagi-pagi, biar berkah dan dapat rizki. Aku lagi cari pekerjaan nih.”

“Ho…ho….begitu toh.”

Eko diam sejenak. Ia menunduk. “Memang jaman sekarang cari kerja susah, Gar. Memang kenapa di tempatmu dulu?”
”Itu dia, Ko. Aku kena mutasi. Perusahaan lagi perampingan besar-besaran.”

“Hmm…coba saja kau cari di iklan Kompas tiap Sabtu,  atau ikutan milis-milis. Disitu suka banyak info lowongan kerja loh!” ujar Eko antusias.

Kalau jawaban Eko sudah begitu, Tegar berkesimpulan di tempatnya pasti tak ada lowongan.

“Memang di tempatmu tak ada lowongan, Ko?” Tegar memastikan.

“Belum …ada, tuh Gar.”

Glek! Tegar berusaha tegar.

Rasanya, pagi ini ia harus bersabar. Ia masih harus berusaha mencari dan mencari.

Ia melangkah lagi setelah pamitan pada Eko yang mesti bersiap-siap ke kantornya.

 

 

Di tengah jalan, dari salah satu rumah, sayup-sayup Tegar mendengar alunan lagu lawas milik Ebiet G Ade.

 

Dari pintu ke pintu

Kucoba tawarkan nama

 

“Hmm…nih lagu nyindir atau apa ya, kok pas banget sih sama kondisiku,” gumam Tegar sambil lalu. Tapi, toh ia justru termotivasi mendengar lagu itu. “Oke, aku harus mencari lagi. Jangan, putus asa Tegar! Hiburnya dalam hati.

 

 

Sudah hampir setengah hari Tegar menyusuri ibukota, memasuki gedung perkantoran di SelatanJakarta. Di ujung pertigaan sebuah jalan raya,  Tegar berniat beristirahat dan mencari halte. Di pinggir jalan, mobil angkutan umum berjejer menunggu penumpang. Sesekali, bus kopaja berhenti mengangkut penumpang. “Dasar angkot tak tahu aturan, mengganggu jalan, bikin ruwet lalu lintas saja, ” gerutunya.

 

Tiba-tiba, tak jauh di depan Tegar,….”Ciiiiiiiiiiiiiit. Brakk!! Sebuah mobil pick up menyalip bus Kopaja yang tengah berhenti dan menabrak seorang wanita. Rupanya wanita itu bermaksud naik bus Kopaja, tapi keburu di salib mobil pick up tadi.

Melihat tak ada reaksi dari orang di sekitarnya, Tegar segera menghampiri wanita yang sudah tak sadarkan diri itu.

“Astagfirullah, ia mengalami pendarahan! Harus segera di bawa ke rumah sakit.

“Pak, bisa tolong wanita ini?” kata Tegar kepada supir taksi di dekatnya. Supir taksi tersebut mengangguk dan membantu Tegar membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat.

 

—-

Di rumah sakit, wanita itu segera mendapat perawatan. Beruntung, para petugas medis menemukan dompet berisi alamat dan nomer telpon keluarga wanita itu untuk dihubungi. Tegar menunggu di lobi. Ia bingung antara pulang untuk melanjutkan usahanya mencari pekerjaan atau masih tetap di rumah sakit. Tapi jika ia pulang, bagaimana nasib wanita tadi, keluarganya belum  ada yang datang. Sementara perutnya sudah keroncongan minta diisi.

—-

 

“Pak….?” Seseorang menepuk pundak Tegar. “Eh….iya… eh..” Tegar tergelagap dari tidurnya. Ia rupanya tertidur sejenak.

“Terima kasih atas pertolongan Bapak.” Ujar seorang Bapak separuh baya. Ia mengenakan jas rapi.

“Oooh Bapak ini… keluarganya mbak tadi? “

“Betul, untung bapak segera membawa anak saya ke sini, karena kalau tidak, saya tidak tahu nasib anak saya …..”

“Berterimakasih hanya pada Allah Pak, Dialah yang menolong anak Bapak, saya hanya perantara,” potong Tegar.

“Iya…iya betul, alhamdulillah…terima kasih ya Allah, juga pak ….”

“Tegar! Ujarnya sambil menyalami tangan Bapak tersebut.

“Haryono,” ini kartu nama saya.”

“Baik kalau begitu ..sekarang saya mohon pamit, karena ada keperluan lagi. Mudah-mudahan kondisi anak bapak segera pulih.”

“Oh iya monggo. O ya kalau boleh saya tahu nomer telpon Pak Tegar?”

“Oh silakan. “ Tegar menuliskan alamat dan nomer telponnya, kemudian memberikan ke Bapak tersebut.

——

 

Sesampainya di luar rumah sakit, Tegar bingung. Ia melongok uang di dompetnya. Hanya tinggal dua puluh ribu. Jarak ke rumahnya masih butuh kira-kira dua puluh ribu lagi. Sementara ia belum makan. Perutnya terasa perih.  “Ah, tahan dulu. Urusan mencari pekerjaan lebih penting. “ gumamnya dalam hati.

Akhirnya ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

“Sambil jalan gini, mungkin aku bisa mendatangi dua kantor lagi, “ baru setelah itu naik bus pulang ke rumah.

 

Ketika perjalanannya mencapai pusatkota. Tepatnya di sekitar pasar Senen. Ia berniat singgah di sebuah masjid untuk beristirahat dan melaksanakan solat Ashar.

 

Tiba-tiba……..sekonyong-konyong….

Tegar merasakan tas ransel di punggungnya disentuh. Tegar segera memegang dan menoleh ke belakang. Lho…tak ada siapa-siapa. Ia yakin sekali, barusan tas ranselnya di buka orang. Dan memang terbukti, retsletingnya terbuka separuh. Tapi, siapa yang membukanya? Dan kemana orang itu? Hmm…aneh. Cepat sekali gerakan orang itu.

Tiba-tiba, Tegar kaget setelah memeriksa isi tasnya.Adasebuah buntelan plastik hitam yang cukup besar. Dan ia baru menyadari, sekarang tasnya terasa lebih berat. Waduh, ada apa ini? Jangan-jangan….

 

Belum selesai ia terkejut, tiba-tiba…

“Jangan bergerak, Anda kami tangkap!

Tegar semakin terkejut.

“Lho…lho…ini apa-apaan ini? Saya sendiri masih bingung…tiba-tiba di dalam tas sa…”

“Halah, jangan banyak omong, ayo ikut!”

Satuan reserse itu benar-benar tak mau kompromi. Mereka menodongkan laras panjang ke arahnya. Tegar tak bisa berkutik. Satu-satunya jalan hanya bisa mengikuti apa kata para aparat hukum itu.

—–

 

“Anda kami tangkap karena terbukti membawa 3 kg shabu-shabu. Ini buktinya. Tas anda dalam pemeriksaan kami!” Kata seorang reserse sambil melemparkan bongkahan plastik hitam di depan Tegar.
”Astagfirullah, Pak…sa…saya…jadi tadi orang itu menaruhnya di dalam tas saya. Ini tidak bisa dibiarkan! Saya di peralat! Saya difitnah!!!

“Anda boleh panggil pengacara, kalau anda mau. Yang jelas, semua bukti sudah ada di tangan kami. Tapi, anda harus kami tahan dulu untuk sementara waktu.

“Ya Allah…..kenapa bisa begini? Saya benar-benar tidak bersalah….,” suara Tegar melemah.

Tegar menundukkan kepalanya. Ia terus beristigfar.

“Ijinkan saya menelpon istri saya, untuk memberi kabar, Pak.”

 

“Astagfirullah, bang!!….Ya Allah, subhanallah…..!! Maira hanya bisa mengucapkan lafaz-lafaz itu setelah mendengar apa yang diceritakan suaminya. Tak sadar, air matanya satu persatu jatuh hingga menjadi buliran-buliran yang semakin deras. “Huhuhuhu….mengapa bisa begitu ya bang?”

“De, abang tak banyak waktu. Abang minta tolong sekarang yang sabar dan kuat ya. Kamu coba hubungi kerabat kita yang pengacara. Kalau tidak salah, Eko kenal temanku yang jadi pengacara. Minta tolong dia saja, insya Allah dia mau bantu. Segitu dulu ya de. Kita serahkan sama Allah, abang yakin kita sedang diuji. Dan kalau Allah sedang sayang pada hamba-Nya, Dia pasti akan mengujinya. Makanya kita harus sabar dan kuat ya sayang…”

“Iy….iya bang…hiks… abang juga sabar dan kuat ya, mudah-mudahan abang segera dibebaskan, hiks.“

“Iya segitu dulu aja ya de, waktu abang habis. Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumussalam Wr Wb.”

 

Tegar menyandarkan tubuhnya dikursi. Tubuhnya lemas. Ia tak punya apa-apa buat membebaskan dirinya. Ia hanya bisa berdoa dan yakin bahwa Allah akan memberikan jalan keluar. Harapannya, istrinya membawa kabar gembira, dan segera membebaskannya dari ancaman bui. Dua orang reserse yang sejak tadi sudah tak sabar menunggu Tegar, segera memberi instruksi kepadanya untuk mengikuti mereka menuju ruangan khusus. Tegar akan diberikan tempat sementara sampai kasusnya selesai.

—-

Azan magrib berkumandang. Maira masih menangis di rumahnya seorang diri. Ia tak percaya ujian itu menimpa diri suaminya. Hari semakin gelap. Maira segera mengambil wudhu. Ketika solat, ia berdoa agar suaminya dapat dibebaskan dari tahanan.

Malam ini, ia tak bisa tidur memikirkan nasib suaminya. “Besok pagi-pagi sekali aku harus menemui mas Eko. Alhamdulillah aku masih hafal jalan ke rumahnya.

“Ya Allah bantu kami,” bisik Maira dalam sanubarinya.

—–

 

Matahari belum sepenggalahan. Rona kemerahan mencuat memancarkan gradasi warna yang menakjubkan, pertanda hari sudah semakin terang.

 

Pagi ini, Maira sudah berada di rumah Eko. Setelah di ceritakan perihal suaminya, Eko bersedia membantu. Dan kebetulan, di kantor ia punya klien yang cukup dekat, dan bisa diharapkan untuk membantu permasalahan Tegar. Maira menangis terharu.

“Mas, terima kasih banyak ya atas bantuannya. Saya janji, semua biaya yang diperlukan akan saya lunasi setelah mas Tegar bebas dan dapat pekerjaan. “ kata Maira memelas.

 

“Iya, ga pa-pa, mbak. Sudah kewajiban saya menolong teman yang kesusahan. Sekarang mba berdoa,  mudah-mudahan masalahnya cepat selesai. “

—-

 

Di ruangan sel, Tegar baru saja menyelesaikan solat dhuhanya. Tak dipedulikannya rasa lapar yang sudah sejak kemarin belum ditebusnya. Perutnya semakin perih. Tapi, ia hanya bisa mengalihkan perih itu dengan melakukan solat dan berdoa. “Ya Allah, berikan kami jalan keluar. Tunjukkan yang salah itu salah, dan yang benar itu benar, atas kuasa-Mu, ya Robb.” Tak terasa, air mata Tegar meleleh di kedua pipinya.

 

Tiba-tiba…seorang reserse membuka sel.

“Pak Tegar, anda silakan ikut kami.”

“Setengah kaget, Tegar bertanya-tanya…”Adaapa lagi ini? Mudah-mudahan kabar baik yang aku terima,.,” batinnya berharap.

 

“Ini dompet dan handphone anda. Silahkan, anda bebas hari ini, “ ujar seorang kepala polisi.”

“Be ..benarkah? Alhamdulillah……. terima kasih ya Allah…” Saat itu juga Tegar sujud syukur. Ia terharu dan tanpa sadar, air matanya meleleh lagi.

 

Di luar sel, Maira dan Eko tampak menunggu.

“Bang Tegaaar!!”

“Mairaaa!!….”

Tegar dan Maira saling berpelukan. Mereka berdua menangis.

“Alhamdulillah bang, berkat bantuan mas Eko dan Pak Har ini, kasus abang bisa diselesaikan.”

Tegar melepaskan pelukan Maira. “Lho…bapak ini? …….Bukannya Pak Haryono yang kemarin….?”

“Iya Pak Tegar, saya Haryono yang kemarin Bapak tolong. Sekarang gantian, saya juga ingin membalasnya. Alhamdulillah, ini kasus ringan yang mudah ditangani.”

Tegar baru ingat dari kartu nama yang diberikan Pak Haryono, kalau pekerjaannya adalah seorang lawyer dan konsultan hukum.

“Iya, Gar, Pak Har ini klien saya. Dan saya tidak meragukan kemampuannya, betul begitu Pak Har?” ujar Eko tersenyum melirik Pak Har.

“Subhanallah, alhamdulillah, Maha Kuasa Engkau ya Robb….”

“Selamat sekali lagi, Pak. “ Ujar Pak Har menyalami Tegar.

“O ya, saya dengar dari Eko, anda sedang butuh pekerjaan?” Lanjutnya.

“Begini, kebetulan di tempat saya, ada beberapa orang yang sedang mutasi dan masih menggantung posisinya. Bagaimana kalau saya tawarkan Anda bekerja di tempat saya?”

Mendengar pengakuan Pak Har, Tegar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

“Wah, subhanallah, saya bersedia sekali Pak. Insya Allah, posisi apapun saya siap,“ katanya antusias.

 

Dalam hati, ia bersyukur dan semakin yakin bahwa Allah Maha Menolong hamba-hamba-Nya yang selalu yakin dan berusaha.

——————-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s